DRAMA SEORANG SISWA
Menangani dan membimbing peserta didik dengan perbedaan karakter, latar belakang keluarga, kecerdasan, emosional, tentunya membutuhkan energi kesabaran dan ilmu pengalaman yang berbeda pula.
Menghadap peserta didik yang pintar mendramatisir secara berlebihan, akan membuat diri kita bingung, kesabaran ekstra, dan berbagai jurus pun dicoba untuk menaklukkan si anak.
Contohnya menghadapi anak yang terlalu cengeng, apapun dihadapi dengan air mata. Baru dipanggil saja, tiba di ruang guru/kepala sekolah langsung pasang ekpresi nangis. Ditanya kenapa menangis, malah tambah ngegas.
Begitulah lakunya setiap hari di kelas, ucap guru kelasnya. Apapun, dijadikan drama tangisan. Ditegur, agar menulis, menangis. Mengapa kemarin tak datang sekolah, dijawab dengan tangisan. Benar-benar membuat guru bingung.
Setelah dicuekin, dia berhenti menangis. Lalu ketika disuruh membaca, meraung lagi. Rasanya ingin tertawa, dibodohi begini, tapi takut berdosa. Disuruh nangis sepuas-puasnya, kapan perlu gas kencang-kencang, eh... Dia malah diam. Aduh, anak ini bagaimana cara mengajarnya?
Dipanggil orang tuanya, agar datang ke sekolah, tidak pernah datang ke sekolah. Mau bagaimana kita bisa berkerjasama. Besok pikirkan cara lain untuk menyikapinya.
.
Lubuk Alung, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan