Sang Perantau 22
Perjalanan bisnis Husni mulai berjalan. Lucy ternyata sangat mahir mencarikan lubang untuk sumber pakaian bekas yang sangat bagus kualitas dan harga masuk di kantong. Rupanya pasaran di Indonesia cukup menjanjikan. Hampir seluruh Sumatera menerima dengan baik. Ratusan kontainer pakaian bekas habis dalam sehari yang membuat kedua pengimpor muda ini sangat bahagia.
Hal ini membuat kedua orang ini dekat secara emosional. Namun sikap Husni masih tertutup untuk masalah hati. Ia ingin berteman saja. Itu lebih baik.
Lucy sangat memahami hal itu karena orang yang mengalami adalah ayahnya sendiri. Bahkan ayahnya membuang diri sejauh-jauhnya dengan.masa lalunya. Cinta dikubur mati olehnya. Walaupun ada perubahan sikapnya namun itu tak mampu membuka celah hatinya yang ditutup rapat.
Pasaran di Kerinci pun sangat baik yang membuka lapangan kerja yang cukup banyak di sana. Ada 10 orang pengepul dan membawahi 10 orang anak buah. Untungpun sangat besar. Beberapa orang mereka sudah ada yang mampu membuat rumah sendiri. Ada yang punya motor dan ada yang punya mobil.
Namun hatinya masih ingin memberikan kesejahteraan lebih pada pedagang kulit manis, kopi dan hasil tani lainnya yang padat tenaga kerja. Mulai dari buruh tani, distribusi dan lain-lain.
Karena sering ke eropa bersama lucy, ia tahu harga kulit manis di Eropa. Harganya bisa mencapai 11 dolar per kilo gram. Terkadang 15.000 dolar per ton. Jika dipangkas jalur yang ada tentu petani akan sejahtera. Dengan dolar 15.000 maka 1 ton bisa mencapai harga 225 juta per ton..bisakah dia memangkas jalur ekspor ini?
Lucy pun kagum dengan rasa cinta Husni pada negeri dan rakyatnya. Mengapa harus para pengusaha saja yang dapat untung besar. Cinta tanah airnya membuat otaknya bekerja. Ya jalurnya terlalu banyak sehingga keuntungan petani menipis. Atau ia buat jalur sendiri saja. Apakah ada kendala? Yang pasti para mafia.
Lucy makin kagum dengan Husni. Kenapa orang sebaik ini disakiti seperti ini. Ya ayahnya pun sangat tulus dan diperlakukan semaunya oleh ibu dan keluarganya. Mungkin mereka merasa ia pasti akan memaafkan. Memang tapi ia akan hilang dari peredaran mereka. Nomor hpnya dibuang ke laut. Ia hanya merasa memiliki Lucy saja..
***
Husni duduk di kedai Da Zul yang makin akrab dengannya. Ia sangat bahagia karena saat Husni ada, penyakit anaknya terasa agak ringan. Dia yakin anaknya diguna-guna.
"Lai sehat da Zul?"
"Lai. Tapi...."
"Tapi a DA? Manga Uda nampak rusuah?"
Da Zul menghela nafas. Ia menenangkan dirinya. Tapi Husni sudah tahu bahwa Yeni, anaknya memang sedang tidak baik-baik saja. Makanya dia sengaja duduk disana untuk mendengar langsung dari mulut da Zul sendiri.
Ia sering melihat ada seseorang selalu duduk di sudut kiri seolah menjaga sesuatu. Pasti ada yang ditanam disitu. Dia sangat yakin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
