Sang Perantau 23
Lucy yang tamatan Cambridge university jurusan perdagangan internasional tampak sangat jelas kualitasnya. Publik speakingnya dalam mempresentasikan sesuatu tampak sangat luwes dan santai yang membuat kagum Husni. Dia tampak fokus pada kerja. Motonya yang sangat kental. Jadilah orang kaya karena kita akan mendapatkan semuanya.
Mereka selalu duduk di kedai Da Zul. Membicarakan sesuatu rencana. Ya bisnis pakaian bekas berkelas sudah menampakkan hasil yang sangat signifikan. Ratusan juta sudah mereka raup. Sekarang mereka mencoba merambah ke pasar modal. Pasar saham. Ya, Lucy mengajaknya ke pasar saham.
Husni hanya Mandah saja. Sebab dia tahu Lucy sangat jujur dan baik hati. Persis seperti ayahnya. Allah jadikan dia sebagai mentor untuk Husni. Ya,.sangat tulus. Sejak bertemu pertama dia sudah bertekad untuk selalu dekat dengan Husni. Permintaan khususnya pada ayahnya. Dia ingin menjadi coach untuk Husni.
Ketulusan hati Lucy membuat Husni merasakan sesuatu yang hilang di hati muncul lagi. Kepercayaan kepada seorang wanita yang sempat hilang. Dari pancaran sinar matanya tampak ingin membuktikan bahwa tidak semua wanita itu seperti yang dibayangkan oleh Husni. Ada wanita yang tulus namun untuk menaikkan prestise dan harga diri kita maka kuliah adalah salah satu caranya.
"Kuliah bukan seperti yang engkau bayangkan, bro. Tetapi menaikkan nilai kita di mata masyarakat. Cambridge membuka kuluab secara online. Lulusannya sangat bagus. Aku contohnya."
Husni tercenung.
"Fikirkanlah!"
Husni memandang wajah Lucy yang selalu tersenyum. Tetapi mengapa wajah pucat. Ya makin hari makin pucat.
"Kamu pucat?"
Lucy menghela nafas panjang.
"Saya tak apa-apa."
Lucy berusaha kuat. Ia tak mau Husni tahu apa yang dialaminya ia tak mau Husni cemas dengan keadaannya. Namun perubahan pada fisiknya tak dapat ditutupi. Lucy tahu akan terbuka juga rahasianya nanti. Makanya sang ayah menuruti kehendaknya. Penyakitnya akan membuatnya bertahan tidak akan lama. Pemyakit leukemianya sudah mendekati stadium dua. Ya paling lama umurnya empat tahun ini. Ya, empat tahun lagi. Ia ingin merasakan.ketulusan hati. Ya ketulusan hati Husni yang tidak ada obatnya. Ya, ia ingin berteman dengan Husni. Jika mendapatkan cintanya itu.lebih baik lagi. Ya, jika mereka ditakdirkan menikah nanti, akan ada orang yang tulus mencintainya. Seperti cinta ayahnya.
Husni mulai sadar bahwa Lucy mengidap penyakit yang sangat berat makanya diapun mendengarkan dengan seksama apa yang disarankannya. Ia pun mengangguk.
"Kenapa mengangguk?"
"Saya setuju saranmu. Saya akan kuliah."
"Online?
" Boleh."
"Sekali-kali kita ke kampus Cambridge itu."
Ya lucy menyadarkannya bahwa kuliah adalah untuk menaikkan nilainya di depan manusia.
Lucy dengan semangat membuka laptop dan mendaftarkan nama Husni. Relasinya yahg banyak dengan orang universitas membuat pendaftaran berjalan lancar. Biaya semuanya ditanggung oleh Lucy.
"Kok dibayar?"
"Nanti selesai semua kita berhitung."
Pendaftaran berhasil dan ujian pun berhasil. Bersama lucy, bahasa inggrisnya sudah terasah. Tes toeflnya paling tinggi.
"Mau online apa offline?"
"Bagusnya kita merantau jauh lagi Lucy."
"Kamu mau kuliah ke Inggris?"
"Kalau bisa kenapa nggak?".
Lucy tersenyum manis. Sangat manis.
"Boleh juga..Kamu saya antar ke sana. Yang penting lulus ujian dan dapat beasiswa."
"Up to you..."
Lucy tertawa lepas.
Husni tetap mengamati sudut tempat orang yang dicurigai mengguna-gunai Yeni, anak Da Zul. Sebelum ke inggris aku akan menyelesaikannya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
