Sandi Yulianto Samah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sang perantau 24

Sang perantau 24

Mata elang Husni mengedari semua tempat yang bisa dijadikan sebagai.media guna-guna itu. Dia membaca sesuatu. Entah ayat Qur'an atau mantra.

Lucy kaget melihat mata Husni berubah menjadi kuning tua. Ia tampak terkesima. Mata itu seperti harimau. Sangat tajam.

Husni berjalan menuju ke tempat duduk orang berbaju hitam dengan rambut panjang, janggut dan kumis tebal dengan kepala ditutupi kain hitam yang dibuat jadi sebuah penutup kepala.

Lelaki itu kaget saat melihat Husni berjalan ke arahnya..Dia terpaku. Seolah terhipnotis.

"Sialan! Kuat juga kebatinan lelaki ini."

Dia mencoba bertahan namun tak kuasa. Kekuatannya tak mampu menundukkan kekuatan Husni. Keringat sebesar jagung keluar dari pori-porinya. Dia berusaha melindungi kain hitam yang berada dibawah kakinya. Rencananya mau ditanamnya lagi di sana.

Husni terus mendekat dengan menambah sepersepuluh kekuatannya..

"Aaakkkh!"

Jeritan kesakitan terdengar dari sudut dan tubuhnya terangkat dan terlempar keluar jendela. Ia muntah darah. Kain hitam terlepas dari tangannya.

Husni memungutnya. Herman melihatnya dan mendekati Husni takut ia kenapa-kenapa. Ternyata Husni dapat melihat hal-hal yang tak dapat ia lihat. Mata harimau!

"Wo tolong Kayo pegang orang itu. Dia terluka hebat."

Herman mendekati lelaki yang dikalahkan oleh Husni. Kaget. Ia adalah dukun terkuat disini. Kok bisa tunduk dalam sebuah jurus saja?

"Baik."

Herman mendekati lelaki separuh baya itu. Ia memberikan hawa.murninya sedikit untuk mengobati luka dalamnya.

Lelaki separuh baya itu tercenung. Ia tak membunuhnya. Ia malah menolongnya. Aah....terlalu lama aku silau dengan kemewahan sehingga.membuat aku salah jalan.

"Da Zul! Siko!"

Da Zul menghampiri Husni.

"Buka ubin ko."

"Harus ambo?"

"Yo."

Da Zul membuka ubin itu dan kaget melihat kain hitam di dalamnya.

"Astaghfirullah....a ko ni?"

"Barang yang pernah dipacik Yeni."

"Ya Allah. Jadi..."

"Yo barang ko diambiaknyo."

"Yo salah ambo Bana. Ambo barubeak ka nyo. Jadi barang Yeni awak agiah sadonyo."

"Dapek duo beliau Da Zul. Dari Uda dapeak dan dari urang yang manyuruah dapek."

"Kurang ajar kau Danu! Kau...!"

Lelaki berpakaian hitam itu tertunduk. Belangnya ketahuan.

"Lalu ba a lai Ni?"

"Uda cari 7 limau. Hari Jumat awak mandikan Yeni."

"Terima kasih Ni."

Husni tersenyum manis. Herman mengacungkan jempol. Lucy tersenyum kagum. Di balik dapur, Yeni dan adiknya memandang dengan mata tak berkedip. Kagum.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post