Sang perantau 26
Kedai Da Zul penuh hari itu. Semua yang masuk gratis makannya karena hari ini adalah acara selamatan atas kesembuhan Yeni dari sakitnya yang sudah bertahun-tahun. Sungguh di luar dugaan. Bahkan banyak orang yang membawa keluarganya untuk berobat.
Yeni sebelum sembuh sudah menyukai Husni. Apalagi sudah sembuh seperti ini. Tambah lebih suka lagi. Ia tampak sangat bahagia siang itu.
"Da mau bayar...."
"Hari ini gratis Da Malik."
"Ado acara apo?"
"Yeni. Ponakan Uda alah cegak."
"Alhamdulillah...manga Ndak mengecek akan Ado syukuran".
" Yo Da mendadak se. Si zal sedang ka rumah Uda magih tahu."
"Urang PKDP dak diundang?"
"Alah, Da."
"Itu yang paling pantiang. Oh yo Ambo Pai karajo dulu. Bilo Tibo uni ambo. Telpon ambo Uda."
"Yo Da. Oh yo Da. Kalau Ado laptop seken ambo pasan duo Yo."
"Ado banyak. Merk apo?"
"Thosiba kalau Ado."
"Ado. Bia Uda bawo Beko."
Malik yang sesuku dan sekampung dengan Da Zul berlalu dari hadapan Zulkifli.
Acara makin ramai. Ada juga acara main Kim khusus Pariaman.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
