Sang perantau 33
Husni mengetuk pintu kamar Lucy.
"Siapa?"
"Saya Lucy."
Lucy membuka pintu dan Husni masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah agak tenang?"
Lucy mengangguk.
"Terkadang semua berjalan di luar kendali kita. Ya tak sesuai dengan yang kita bayangkan. Dulu aku membayangkan akan diterima karena punya harta. Tapi penghinaan karna aku bukan sarjana. Sangat pedih. Ternyata pendidikan menjadi alasan aku disingkirkan. Tidak masalah tapi penghinaan terhadap ibuku membuat aku benci. Tiada pembelaan dari orang yang kucintai."
Husni berjalan menghadap kota London yang tampak jelas dengan big bandnya.
"Luka itu memang dalam. Aku dapat membayangkan. Tapi saat orang sadar dan minta maaf apakah tidak ada pintu maaf dibukakan?"
Lucy tersenyum getir.
"Kamu pun tak membuka hati untuk wanita. Apakah tidak sama dengan aku?"
"Menurutmu?"
"Sama karema sama tidak memaafkan."
Husni tersenyum.
"Suatu saat akan kubuka hatiku...akan aku buka. Kamu?"
"Aku berharap mama memang berubah. Baru aku fikirkan untuk memaafkan."
Husni tersenyum manis.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
