Sang perantau 34
Chintya sangat khawatir melihat kondisi anaknya. Wajahnya sangat pucat. Seolah tak berdarah. Ia mencari ciri-ciri penyakit itu di google. Ia terperangah.
"Kanker darah?"
Ia terduduk lesu.
"Oh my sweet heart...Selama ini mama tidak tahu kamu sangat menderita. Mama tidak ada di samping mu saay kamu membutuhkan. Sekarang mama akan cari dokter terhebat untuk mengobatimu."
Chintya membulatkan tekadnya. Ia menelpon paman Lucy yang dokter. Jawabannya hanya satu transpalansi tulang belakang. Ia kan mencari donor yang cocok. Jika tulang belakangnya cocok, ia akan siap mendonorkannyay. Itu tekadnya.
Di Dumai, Herman sangat mahir menjalankan bisnis baju bekas peninggalan Lucy dan Husni. Kini mereka memasuki seluruh Sumatera. Berkembang sangat pesat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
