Sang perantau 36
Lucy melihat senyum yang tak temui saat pertama bertemu di atas bus. Senyum yang sangat manis. Rambut panjang sebahunya membuat ia kelihatan macho. Dadanya yang bidang hasil tempaan alam memberikan warna khusus bagi Lucy. Ya sejak pertama bertemu ia sudah jatuh hati. Sejak pertama bertemu ia sudah merasakan getaran yang sangat lain di hatinya. Ia melihat duka di matanya. Dan sekarang duka itu perlahan mulai hilang dari wajah Husni. Pendiam tapi ceria.
Sedangkan Chintya terus mencari pedonor sumsum tulang belakang untuk Lucy. Semua rekanan yang ada dihubungi untuk mendapatkan donatur yang tepat. Ia tak mau anaknya kenapa-kenapa. Ia harus menebus semua kesalahan lamanya. Sang suami pun tampak sangat mendukungnya. Ia pun memanfaatkan semua rekanannya. Namun belum ada yang cocok.
Paman Lucy, Robert-guru besar universitas Cambridge melihat keseriusan pada Chintya karena Chintya selalu menghubunginya. Boleh dikatakan dialah narahubung chintya dengan dokter yang menangani Lucy. Profesor dr. Steven Hubner spesialis penyakit kanker darah.
Melihat kesungguhan Chintya, Robert luluh juga. Ia melihat penyesalan yang teramat dalam pada Chintya. Cinta yang sangat tulus.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
