Sang Perantau 42
Kedua adik kakak itu membuat rencana gila untuk mengasingkan orang tua mereka. Tapi mereka sudah terlambat karena semua rekanan mereka sudah dihubungi dan mereka sudah menyerahkan nama Chintya jika terjadi sesuatu pada mereka. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka pasti akan dibuang di panti jompo yang jauh dari kota dan ketat.
Namun sebelum semuanya terjadi, mereka sudah meninggalkan rumah dan pergi ke rumah Chintya yang kaget dengan kedatangannya.
"Mama? Papa?"
Elisabeth hanya tersenyum. Begitu pun Michael.
"Masuk Ma, Pa..."
"Ya nak terima kasih."
Elisabeth menjawab sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa mama dan papa seperti ketakutan?"
"Max dan Kirsten akan menghancurkan rencana kalian. Mereka berniat membuang mama. Tapi mama sudah tahu niat mereka. Mama berniat sembunyi dulu disini."
"Hmm... sebegitu serakahnya mereka dengan hartaku ma?"
"Entahlah... iblis apa yang merasuki mereka."
Michael,. Ayah Chintya yang sedari tadi diam angkat bicara.
Chintya terdiam.
"Tapi mama sudah menghubungi rekanan mama dan papa. Nomormu papa berikan pada mereka. Jika terjadi sesuatu dengan mama. Ini semua surat penting papa berikan padamu. Mama yakin bersama mu harta ini akan berguna."
Chintya memeluk mamanya.
"Sudah cukup,.Nak...mama ingin cucu mama selamat..."
Mata Elisabeth dan Michael berkaca-kaca dan meneteslah air mata mereka. Air mata penyesalan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
