Sang Perantau 48
"Lucy! Lucy! Jangan tinggalkan mama!"
Chintya berlari di koridor rumah sakit royal hospital London dengan air mata bercucuran. Elizabeth dan Michael mengekori dari belakang. Tampak cemas.
Husni termangu dan terlihat sendu. Teringat ia kata-kata lucy beberapa hari yang lalu.
"Kalau aku masuk rumah sakit nanti, sebelum mati aku ingin jadi pengantinmu, Husni. Aku bahagia bersamamu."
Husni menahan tangis. Apakah ini permintaan terakhirnya? Jika memang iya, ia akan mengabulkannya.
Ia berjalan menghampirinya Jack dengan pakaian rapinya. Jack dan Lucy yang telah masuk Islam setelah sampai di Indonesia menatap lekat-lekat.
"Oom Jack...adakah ustadz disini?"
"Maksudnya?"
"Carikan penghulu."
"Untuk apa?"
"Biar kuhalalkan Lucy untukku..."
"Maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu ia mengatakan jika dia masuk rumah sakit, ia ingin jadi pengantinku...."
Jack terngaga. Memang itu maksud dia kemari. Untunglah Husni menyadarinya.
Entah kekuatan darimana detak nadi yang hampir hilang muncul lagi di monitor. Mata Lucy terbuka dengan uraian air mata. Ia ingin menyaksikan ijab kabulnya. Ia tersenyum. Berhasil ia menghidupkan cinta yang telah mati di hati Husni.
Ijab kabul berjalan lancar yang disaksikan oleh semua keluarga Lucy. Termasuk ibu dan ayah sambungnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
