Sang Perantau 49
"aku ingin hidup Husni. Aku ingin memberikan selusin anak untukmu. Aku aku...ingin hidup selama-lamanya denganmu. Sampai ke surga."
Lucy bicara terbata-bata ketika ijab Kabul selesai di laksanakan. Direktur rumah sakit royal memfasilitasi sebuah kamar untuk acara ini untuk menampung tamu yang ingin menyampaikan selamat.
"Terima kasih, sir Alex untuk semua ini."
"Kita kawan prof. Nikmatilah hari ini."
Semua undangan datang. Seluruh mahasiswa Cambridge datang. Salah seorang mahasiswa itu adalah seorang yang pernah singgah di hati Husni, Maya.
Maya terbelalak melihat pengantin lelakinya yang tampak gagah. Jadi ia kuliah di Cambridge juga dan akan melanjutkan S3nya di bidang ekonomi?
Husni tak bereaksi melihat wanita yang sudah menanam luka di hatinya. Sedikitpun.
Lucy melihat reaksi maya yang tampaknya tak rela dengan semua ini. Ya, ia wanita dapat merasakan itu. Ia memegang erat tangan Husni, lelaki malang yang hatinya telah dia pulihkan. Tak mau dia terluka lagi.
Dokter pun kaget melihat progres kesehatan Lucy. Cinta rupanya lebih ampuh dari obat. Wajah Lucy yang dulu pucat kembali memerah. Berdarah.
Husni pun gembira melihat perkembangan ini. Ya Allah panjangkan umurnya. Biar aku ada keturunan dengannya sebagai ucapan terima kasih untuk om Jack.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
