Sandi Yulianto Samah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sang Perantau 62

Maya menghela nafas panjang. Semua ingatannya menjemput masa lalunya. Menjemput kebahagiaan yang pernah ia rasakan bersama Husni. Lelaki yang sangat gigih. Ladangnya paling luas di kampungnya. Sekarang malah buka PT ekspor kulit manis. Dan menghidupkan kembali pelabuhan di muara sakai, pesisir. Ia membeli pelabuhan tersebut. Ya khusus untuk kapal kargonya. Ya ia punya harapan yang besar untuk memajukan para anak bangsa..

Ratusan kapal bersandar di dermaga. Jalan raya pun dibuat lebar dengan sistem anti longsor. Ia menanam kembali hutan yang gundul bersama masyarakat yang peduli hutan. Sebuah helikap dibuat di tengah hutan untuk mengawasi. Mulanya untuk menyiram tanaman saat musim kemarau. Tanaman petai, jengkol dan durian di tanam di sana dengan harapan masyarakat dapat mengambil buahnya untuk dimakan atau dijual.

Bersama dua bupati dan satu walikota bahu membahu menyelamatkan hutan dan ternyata berhasil. Rakyat hanya butuh makan. Hutan produksi pun dibuat untuk persediaan kayu untuk bangunan. Ya di luar TNKS.

Maya merasa telah membuang kekayaan yang luar biasa. Ya Allah seandainya masih ada harapan berikan sedikit agar aku dapat melepaskan rindu yang sangat dalam ini. Menumpahkan air mata penyesalan dalam dekapannya.

####

Sepasang mata menyaksikan piala dunia U-17 di Swedia. Dia berdecak kagum melihat tiga anak kembarku. Ya,.tahun itu Indonesia mampu meraih juara dunia untuk pertama kali. Ya tahun 2034. Ia adalah pencari bakat Real Madrid dan juga seorang yang sangat kentara dalam hal naturalisasi. Ia ingin anak itu bermain untuk negaranya Denmark.

Segala cara ia lakukan namun tak berhasil. Jackson adalah incarannya pertama. Ya karena dia bermain di klub kopen hagen FC. Namun penolakan halus ia dapatkan. Ia menyewa orang untuk menculik Jackson dan berhasil. Namun Jackson mampu melarikan diri dalam keadaan terluka. Ia dibawa ke Jerman oleh penculiknya.

Ia berlari terus dari kejaran lelaki yang bernama cristansen. Sampai ia terkapar di depan apartemen maya. Maya dan Lusi memang tinggal bersama. Maya terkejut mendengar rintihan seseorang.

"Air...air..."

Ia mendekati sumber suara dengan tergesa-gesa. Saat melihat wajahnya ia terkejut karena mirip Husni.

Ia mendekati Jackson dan memberikannya minuman.

Jackson tersenyum dan tertidur dalam dekapannya.

Maya tak berteriak. Ia mendekati satpam komplek minta tolong membawanya ke ruangannya.

"Pak tolong bawa dia..."

Satpam mengangguk. Dan membawanya ke apartemenya yang terletak di lantai 10.

Lama dia tertidur. Hampir setengah hari.

Lusi yang baru pulang jogging terkesima melihat anak lelaki tersebut.

"Ganteng kali anak itu May. Anak siapa? Kok tubuhnya penuh luka?"

"Ya...sangat ganteng. Gak tahu. Tampaknya dia mengalami hal yang buruk."

"Masih tidur?"

"Ya masih tidur. Biar saja."

Sedangkan Jackson dalam alam bawah sadarnya merasa dikejar terus oleh seseorang yang ingin mematahkan kakinya bila dia tak bersedia membela negara Denmark.

"Jangan...!"

Maya dan Lusi terkaget mendengar jeritan itu.

"Mereka bergegas menghampirinya.

"Tenang Nak! Kamu aman."

Jackson mengusap mukanya.

"Alhamdulillah...terima kasih Tante."

Maya tersenyum.

"Kamu bisa bahasa Indonesia?"

"Saya bisa 15 bahasa Tante."

"Wow...hebat sekali. Sudah makan?"

Jackson menggeleng.

"Tante belikan makanan Ya?"

"Jangan babi ya tan."

Maya mengangguk. Persis sama dengan cara Husni bicara. Ya ia juga pernah dengar anak Husni tinggal di Denmark. Ya logat Denmarknya kentara. Hanya itu yang dia ingat.

Jackson melihat maya membawa makanan dan tersenyum.

"Mari makan..."

Jackson mau bangun.

"Berbaring saja. Biar Tante bawa makanannya."

Jackson manut saja dan membuat Maya terkesima. Cara ia menerima kata sama dengan Husni. Bicaranya lembut. Jangan jangan...takkan ada yang sangat mirip.

Sedangkan di tempat lain diwaktu yang sama...

Chintya dan suaminya di rawat di rumah sakit karena mencoba menghalangi orang menculik Jackson. Tangan michael tersayat pisau penculik sedangkan Chintya jatuh didorong oleh perampok di rumahnya. Untung ada tetangga yang membawa mereka ke rumah sakit.

Saudara kakeknya di Inggris segera terbang ke Denmark untuk menjenguk Chintya dan mengerahkan semua orang mencarinya, termasuk Husni yang kebetulan ada jam mengajar di Cambridge.

"Tenang Husni...."

"Bagaimana aku tenang Paman? Sudah 24 jam belum ditemukan."

" Ya paman tahu. Paman sudah menghubungi polisi dan interpol kalau dia dibawa keluar Denmark."

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post