Seir Haidah Hsb

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Buruh Tani-19

Buruh Tani-19

30 April 2023

@Cerpen

#Tagur hari ke-29 tahun ke-2

Seir Haidah Hasibuan

Buruh Tani-19

Bertemu Paman dan Bibi

Sita tidak mengenal tamunya yang datang hingga ia memberanikan diri untuk bertanya. Paman dan Bibinya tersentak mendengar pertanyaan dari keponakannya.

Wajar memang pertanyaan itu dilontarkan kepada mereka karena, setelah Sita besar mereka tidak pernah lagi bertemu. Dulu, sudah lama sekali mereka berkunjung ke rumah adik iparnya. Saat itu Sita baru berusia 7 tahun.

"Nak, ini Pamanmu dan saya adalah Bibimu Nak," tutur Bu Mirna lirih.

Matanya sembab menahan air bening yang akan terjatuh di pipinya. Bu Mirna memeluk keponakannya.

"Maaf Paman dan Bibi Sita tidak tahu," ucapnya jujur.

Sita pun gegas membuka pintu rumahnya.

"Paman, Bibi dan Mbak, silakan masuk, sebentar aku panggil Bapak dan Ibu," pinta Sita dengan sopan.

Jingga merasa tidak nyaman duduk di kursi yang terlihat kusam. Dia sangat gelisah seperti cacing kepanasan.

"Bu, kita tidak menginapkan Jingga tidak akan bisa tidur bila keadaanya seperti ini," sanggahnya dengan wajah murung.

"Nak, kamu tidak boleh seperti itu, ini rumah bibimu," Bu Mirah menasihati anaknya dengan lembut.

Sembari menunggu adik iparnya, Bu Mirna melihat foto yang terpajang di dinding. Foto lama keluarga suaminya. Narto suaminya masih terlihat muda. Narto hanya dua bersaudara. Kini kedua mertuanya sudah tiada. Namun, kehidupan mereka sangat jauh berbeda. Ibu Sita tinggal bersama ibunya, nenek Sita.

Kini mereka tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Rumah sederhana tetapi bersih walau perabotannya sudah terlihat buram. Sawah milik orang tuanya sudah habis terjual untuk biaya kuliah anaknya Narto. Karena, sawah orang tuahya sudah tidak ada lagi, sehingga Ayah dan Ibu Sita bekerja pada Juragan Tanah sebagai buruh tani untuk menghidupi keluarganya.

Sedang asyik memandangi foto di dinding, terdengar langkah kaki yang semakin dekat. Pintu dapur berbunyi.

Klek, keeer.

"Eh, Mbak, Mas, apa khabar? Maaf lama menunggu," ungkap Ibu Sita sembari menyalami Saudaranya yang datang.

Sebentar Mas, Mbak aku membersihkan tubuh dulu," jelasnya.

Bapak Sita yang menemani paman dan bibinya bicara.

Ibu Sita menghampiri anaknya.

"Nak, Sita, tolong buatkan minuman untuk paman dan bibi serta mbakmu," titah Ibu Sita. Dia pun gegas ke dapur memhuatkan minuman. Ibu Sita bergegas membersihkan tubuhnya. Wangi sabun mandi dan sampo menyeruak hingga ke ruang tamu saat Ibu Sita keluar dari kamar mandi. Usai mandi Bu Sita masjk ke kamar merapikan rambutnya. Kini Ibu Sita terlihat rapi dan segar. Dia pun menghampiri kedua kakak dan keponakannya lalu memanjakan bokongnya di kursi.

Tetiba Bapak Sita beranjak dari kursinya.

"Saya tinggal dulu Mas, Mbak, saya juga mau membersihkan tubuhku."

Ibu Sita sudah terlihat lebih tua padahal usianya dua tahun di bawah Mas Narto.

Bersambung....

Jakarta, 300423

Salam literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post