Buruh Tani-5
16 April 2023
@Cerpen
#Tagur hari ke-15 tahun ke-2
Seir Haidah Hasibuan
Buruh Tani-5
Mencari nafkah
Di tempat lain Rika tidak senang berteman dengan Sita.
"Ih, bgapain sih, Cikra mengajak Sita belajar kelompok di rumahnya. Padahal Cikra anak orang kaya, apa sih yang dilihat dari Sita," gumamnya bermonolog sembari wajahnya murung.
Dari ruang tamu Ibu Rika memperhatikan anaknya.
"Hai, Nak! Kenapa wajahmu murung apa yang terjadi? Tanya mamanya heran. Tidak biasanya anaknya begitu.
"Ya, Ma, aku tidak suka Cikra mengajak Sita belajar kelompok di rumahnya Sabtu besok!"
"Anak mama yang cantik, tidak bagus begitu, kita harus berteman keppada semua orang, tidak boleh pilih kasih ya Nak," nasihat Ibu Rika sembari mengelus lembut rambut Rika yabg terurai.
Rika belum menerima nasihat mamanya, wajahnya masih murung.
Sinar jingga memburat di senja itu, Cikra bersenandung kecil, suka cita menyelimuti hatinya. Terbayang Sabtu besok teman-temannya datang belajar kelompok. Dibersihkannya meja dan kursi tempat mereka belajar kelopmpok.
Ia menghampiri Ibunya yang sedang duduk di sofa, sembari melihat benda pipih yang di tangannya.
"Hai, Bu, sudah pulang rupanya," ucapnya sembari menempel duduk di samping Ibunya.
"Hai, juga Nak Cikra, ibu lihat hari ini kamu senang sekali! bahkan bersih-bersih lagi," goda Ibunya.
"Ya, Bu, besok Sabtu teman-teman mau belajar kelompok di rumah kita," jelas Cikra manja.
"Baiklah Nak, belajar yang benar, besok Bibi akan menyiapkan makanan untuk teman-temannya."
Cikra melengkungkan bibirnya.
"Terima kasih Bu."
Dokter memeriksa Ibu Sita di kamar periksa. Tetiba ibunya Sita membuka netranya, dan merasa heran.
"Apa yang terjadi dengan saya," ungkapnya sembari menyapu seluruh ruangan dengan netranya.
"Ibu pingsan tadi Bu. Syukurlah sudah sadar," sambung dokter Hilma.
Dokter pun memeriksa Ibu Sita. Ternyata tensinya rendah.
"Ibu, harus banyak istirahat, dan makannya diperhatikan Bu, agar cepat pulih," kata dokter sembari memberi obat.
Dokter pun memanggil keluarga pasien.
Semua mata tertuju ke dokter saat memanggil keluarga pasien.
"Bagaimana dok, keadaan Ibu saya?" Tanya Sita.
"Ibu ini kecapaian, harus banyak istirahat," pesan dokter Hilma.
"Bagaimana dok, kami harus kerja untuk mencari nafkah setiap hari.
Kami bisa masuk dok," keluarga Ibu Sita.
"Silakan masuk melihat Ibu," dokter Hilma memberi izin.
Bersambung....
Jakarta, 160423
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
