Buruh Tani-8
19 April 2023
@Cerpen
#Tagur hari ke-18 tahun ke-2
Seir Haidah Hasibuan
Buruh Tani-8
Merantau
Sejak kelas 5 SD Ridwan sudah pergi merantau bersama teman-temannya. Keberadaan Ridwan tidak diketahui orang tuanya. Kini hanya Sita harapan kedua orang tuanya untuk membantu membiayai keluarganya. Usia ayah dan ibu Sita sudah di ambang senja. Mendengar penjelasan Sita, teman-temannya terharu terlebih Citra, buliran bening tidak terasa menetes dari netranya.
"Sita, yang sabar ya semoga ibu Sita segera sembuh.
Sita mengucapkan tetima kasih atas kehadiran teman-temannya.
"Sita kami pamit dulu ya," tetap semangat agar, bisa ikut ujian nanti," ulas Citra sembari menyalam Sita serta memeluknya.
Teman-teman Sita pun meninggalkan rumah Sita. Setelah temannya tidak terlihat lagi, Sita kembali melangkah masuk ke rumah lalu Sinta menutup pintu rumahnya. Sita menghampiri ibunya yang sedang berbaring di pembaringannya.
"Nak Sita, di mana ya keberadaan Ridwan kakakmu, ibu sangat merindukannya," tanya ibu Sinta dengan lirih. Ibu Sinta selalu kepikuran akan anaknya Ridwan. Selama kepergiannya mereka tidak pernah bertemu bahkan mendengar kabarnya pun belum pernah.
"Sudahlah Bu, jangan dipikrkirkan yang penting ibu sehat dulu. Kak Ridwan pasti bsik-baik saja.
Jauh di perantauan Ridwan bersama-teman-temannya bekerja sebagai tukang batu di sebuah bangunan. Dengan tekun Ridwan bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya.
Siang itu sangat terik. Sinar mentari membakar kulit legam para tukang bangunan. Ridwan merasa sangat letih, tetiba ia teringat keluarganya. Ayah dan ibu yang dia sayangi terlintas di benaknya, serta adiknya yang masih 7 tahun saat dia pergi.
"Pak, Bu, Dik Sita, aku sangat menindukan kalian!" Bagaimana kabar kalia ? Semoga kalian bsik-bsik saja," gumamnya bermonolog.
Ada sepasang mata yang memperhatikan Ridwan. Dia pun menghampirinya.
"Hei, Ridwan, kamu melamun, apa yang kau pikirkan," tanya temsnnya yang sedari tadi memperhatikan sikap Ridwan.
"Eh, kamu Tino, bikin kaget saja, aku tidak apa-apa," jelas Ridwan.
Diteriknya mentari saat istirahat, mereka menyantap makanan yang sudah disediakan bosnya. Nasi putih serta sepotong tahu tempe dan kuah sayur, itulah makanan mereka setiap hari. Sembari makan Ridan bercerita tentang kedua orang tuanya serta adik peremppuannya. Netranya sembab dan tidak terbendung lagi, akhirnya bituran bening berjatuhan membasahi pipinya
Berlanjut....
Jakarta, 290423
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
