Buruh Tani-29
10 Mei 2023
@Cerpen
#Tagur hari ke-39 tahun ke-2
Seir Haidah Hasibuan
Buruh Tani-29
Permintaan Citra
“Bu, Cikra bisa ya membantu Sita, supaya dia bisa melanjutkan sekolahnya,” ucap Cikra sembari menatap wajah ibunya.
“Kasihan sekali anak itu, apa lagi kedua orang tuanya bekerja di sawah kami,” monolognya di hati.
“Boleh ya Bu,” pinta Citra sambil membuyarkan lamunan Ibunya.
“Eh, ya, Nak,” ucapnya sontak.
“Nanti Ibu bicarakan dulu dengan bapak,” balas Ibu Citra.
Citra berharap kedua orang tuanya mau membantu Sita. Dia beranjak dari hadapan ibunya melangkah ke kamarnya. Dihempaskannya tubuhnya di atas ranjang sambil mengelarkan napasnya dengan kasar.
“Huuup.”
Citra menyapu langit-langit kamar dengan netranya, pikirannya menerawang jauh.
“Betapa senangnya bila aku satu kelas lagi dengan Sita di SMP nanti, kami akan pergi bersama-sama ke sekolah.”
Citra bermonolog di atas pembaringannya. Beberapa menit kemudiaa Citra sudah terlelap dalam mimpinya. Dia tidak menyadari kapan dia terlelap.
Tin… tin… tin, klakson mobil membangunkan Citra dari istirahat siangnya.
“Aduh, sudah pagi, aku akan terlambat,” gumamnya di hati.
Citra pun beranjak dari pembaringannya, dikiranya sudah pagi, ternyata hari masih sore. Kakinya melangkah kesuara mobil yang ada di halaman rumahnya.
“Bapaaaaak, aku kangen bapak, kemana saja sih, tidak ngajak-ngajak,” tuturnya sembari memeluk tubuh bapaknya.
“Ya, Nak ada pekerjaan yang harus ditangani,” imbuh bapak Cikra sembari mengelus rambut Citra yang terurai pangjang. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Bapak Cikra menghempaskan bokongnya di sofa sambil mengeluarkan nafas dengan kasar.
“Huuup, letih sekali rasanya.”
“Bi, Lasni tolong buatkan minum bapak,” titah BU Citra.
***
“Dik, kami pamit pulang ya, lain kali kami akan datang kembali. Semoga kita sehat-sehat semua,” ucap Bu Mirna sambil menyalami.
Pak Narto dan Bu Mirna bangkit dari kursinya sembari melangkah ke halaman depan lalu membuka pintu mobilnya. Bu Mirna duduk di samping Pak Narto. Mobil pun melaju meninggalkan rumah Sita. Lambaian tangan mengiringi kepergian Pakde dan Bude Sita. Setelah mobil Bu Mirna sudah tak terlihat lagi, Sita pun masuk disusul kedua orang tuanya.
“Pak, sepertinya Mas Naro dan Mbak Mirna kecewa karena, Sita tidak mau tinggal bersama mereka.”
Ibu Sita berucap sambil meneguk air minum yang masih tersisah di gelasnya.
“Ya, Bu, tetapi anak kita Sita tidak ingin jauh dari orangtuanya,” sambung Bapak Sita.
Mereka juga ingin anaknya melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi namun, keadaanlah yang membuat sehingga Sita tidak bisa ke SMP.
Bersambung….
Jakarta, 100523
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
