Seir Haidah Hsb

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Buruh Tani-32
Sumber gambar dari google

Buruh Tani-32

13 Mei 2023

@Cerpen

#Tagur hari ke-42 tahun ke-2

Seir Haidah Hasibuan

Buruh Tani-32

Kehadiran Juragan

Sebenarnya Sita ingin tinggal bersama Pakdenya agar dia bisa sekolah namun, berat rasanya meninggalkan kedua orang tuanya.

“Kukuruyukkkk!”

Suara ayam jantan membangunkan Sita dari pembaringannya. Pertama dia melantunkan doa kepada sang pemilik hidup lalu Sita beranjak dari pembaringannya. Suara burung pipit yang terdengar merdu di pohon manga di samping rumahnya membuat Sita semakin semangat. Dilangkahkan kakinya ke dapur menyiapkan makanan setiap hari.

“Aku harus cepat masak, kami akan kesawah lebih awal masih banyak yang akan digarap. Semoga tabungan ayah bisa bertmbah agar, aku bisa sekolah,’ bisiknya di hati.

Sita yang sudah selesai masak, dia pun meraih handuk untuk membersihkan tubuhnya. Kedua orang tuanya juga sudah siap pergi ke sawah.

“Pak, Bu, ayok kita sarapan pagi semua sudah siap,” ungkap Sita sembari menyilakan mereka duduk.

Walau pun hanya dengan sarapan singkong mereka selalu bersyukur kepada Tuhan. Terutama Sita, tidak pernah menuntut banyak kepada orang tuanya. Saat mereka bersiap-siap berangkat kerja tetiba ada yang mengetuk pintu rumah Sita.

“Siapa pagi-pagi sudah bertamu? Tanya bapak Sita heran.

Sita yang mendengar ketukan itu, gegas dia membuka pintu.

Klek, kereet.”

Pintu terbuka, Sita tersentak saat melihat tamunya yang datang. Dia tertegun sejenak.

“Hai, Sita apa kabar? Tanya Citra membuyarkan lamunan Sita.

“Eh, ya, Citra, maaf. Silakan masuk Pak, Bu,” seru Sita menyalami tamunya dengan membungkukkan badannya sebagai tang hormat. Sita menyilakan tamunya duduk.

Ayah dan Ibu Sita tersentak saat melihat tamunya yang datang. ayah Sita bertanya di benaknya.

“Apa yang terjadi sebenarnya, akan kehadiran juragan ke rumahku, apa kesalahanku?”

Suatu kehormatan yang besar Juragan datang berkunjung ke rumahnya. Ia tidak menyangka kehadiran juragannya.

Sita beranjak dari kursinya pergi ke dapur. Beberapa menit kemudia Sita kembali dengan membawa minuman di atas nampan.

“Silakan Pak, Bu, dan Citra diminum,” ucap Sita sopan.

Tetiba Ibu Citra bersuara memecah keheningan.

***

Di sisi lain.

Rika mendengar kabar bahwa, Sita tidak bisa melanjutkan sekolahnya.

“Makanya, jangan sok kepintaran dan hebat kalau Cikra mau berteman denganmu,” Rika bermonolog.

Rika merasa sepi di dalam rumah, ia pun melangkah ke teras rumahnya. Dia duduk di kursi yang ada di teras rumah.

“Hmm, segarnya,” ucapnya sembari merapikan rambutnya yang terurai.

Bayu yang berhembus menyejukkan tubuhunya yang gerah.

“Hai, Rika, lagi santai nih,” tegur Vina yang sedang lewat dari depan rumah Rika.

“Hai, Vina, mau kemana? mampir dulu sebentar,” ajaknya melambaikan tangannya.

Bersambung….

Jakarta, 130523

Salam literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post