Habis Hujan Tampak Pelangi
Habis Hujan Tampak Pelangi
Kulalui jalan setapak, hening sepi.
Hembusan bayu menyentuh kulit tipis hingga menemhus ke tulang
Kucari bayangmu di bawah rembulan.
Tak jua kutemukan
Pilu hati rindu dendamku terkukung
Kapankah badai berlalu
Masih terbayang saat awal kehadiranmu.
Janji manismu melambungkan sukmaku.
Hati kita terpaut menjadi satu.
Kau bawa aku mengikat janji suci.
Namun kebahagiaan hanya sesaat.
Perahu terhempas gelombang yang datang dari segalah arah.
Egomu melambung dan terhempas jauh. Kita dipisahkan keangkuhan yang tak mendasar.
Buliran bening menganak sungai membanjiri wajah yang kelu.
Di ujung senja yang kelam kumerindu jemarimu yang dulu membelaiku
Tak henti-hentinya kulangitkan doa
Kau telah pergi bersama keangkuhanmu
Janji manis dulu telah sirna
Kutetap menunggumu walau sampai di ujung senja.
Lantunan doa yang tiada henti dengan tetesan air mata berharap kehadiranmu kekasih jiwaku.
kesabaranku kini berbuah manis.
Sosokmu yang sekian lama menghilang kini telah hadir di depan mataku.
Adakah aku bermimpi?
Kutatap wajahmu tajam
Ya, benar jemarimu membelai lembut
Air mata bahagia membanjir dari netraku.
Kau peluk erat ragaku yang sekian lama tak berdaya.
Ĵhujan ada pelangi yang indah.
Jakarta, 3 Juni 2023
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
