Luka yang Mendera
#Tagur 79
@Cerpen
Luka yang Mendera
"Pergilah, kalau itu maumu. Tak usah kembali lagi! Kirin tak kuat lagi menahan luka yang sekian lama bertengger di dadanya. Tidak ada lagi kedamaian dalam bahterah mereka. Setiap malam Dodi suaminya meninggalkannya di rumah mungil yang menjadi tempat tinggal suami Istri yang masih seumur jagung.
Prang, sebuah piring dihempas ke lantai, tersentak Kirin mendengarnya. Kirin bergeming, tak ingin dia menoleh laku suaminya itu.
Suara pintu yang terdengar kencang, saat Dodi ke luar meninggalkan Kirin.
Sunyi sepi, saat Dodi meninggalkan istrinya yang berurai air mata.. Tak ada lagi hentakan suara dan benda yang melayang.
Hanya air mata yang menganak sungai membasahi pipi Kirin.
"Mana janji manis yang kau ungkapkan dulu Mas, saat kita bercinta dulu? Semuanya hampa belaka!
"Walau engkau menyakitiku, aku tetap berharap kita akan berdamai lagi. Aku tetap berdoa untuk meluluhkan hatimu yang keras bagai batu karang."
Jakarta, 23 Juni 2023
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan