Cemburu yang Tak beralasan
Luka yang mendera-8
@Cerpen
#Tagur ke-91
Cemburu Yang Tak Beralasan
Wulan masih pusing dan demam, belum kuat dia berjalan. Bi Kirin mengambilkan nasi Wulan.
“Habiskan makannya yan Nak, biar minum obat dan istirahat,” ucap Bi Kirin.
“Baik, Bi, terima kasih,” jawabnya sambil menyendok nasi ke mulutnya.
Walau masih pahit rasa di mulut, Wulan tetap mengabiskan makannya, dia tidak mau mengecewakan Bibinya yang sangat perhatian kepadanya.
“Eh, anak pintar sudah habis nasinya,” ucap Bibi dengan senyum yang mengembang.
Bi Kirin meraih obat dari dalam tasnya, lalu diberikan kepada Wulan.
“Ini, Nak, obatnya!” ayo diminum.”
Tiga hari kemudian Wulan sudah sembuh dari sakitnya. Senyum mengembang terlihat di wajah Bi Kirin. Dengan semangat yang membuncah Bi Kirin melayani pembeli yang datang. Wulan menghampiri Bi Kirin yang sedang sibuk melayani di tokonya.
“Bi, besok Wulan sudah bisa masuk sekolah ya Bi?” Wulan sudah sembuh kok!” ucapnya.
“Baiklah Nak, persiapkan pakaian seragammu dan buku pelajaran untuk besok,” tegas Bi Kirin.
Sedang asyik Bi Kirin merapikan barang dagangan di tokonya, tetiba ada yang memanggil namaynya, dikira pembeli.”
Sebentar ya Pak,” ucapnya sembari menghampiri pembeli yang datang.
Sontak Bi Kirin melihat orang yang datang.
“Nagapain lagi kamu datang Mas, pergilah jangan ganggu aku lagi, aku sudah ikhlas melepaskanmu. Lagi pula aku sudah mengurus perceraian kita,” tukas Bi Kirin sembari masuk ke dalam rumahnya.
“Tunggu dulu Rin, aku tidak bermaksud mengganggumu,” teriak Dodi.
Kirin tidak menghiraukan kedatangan Dodi mantan suaminya.
“Siapa lelaki yang menikahimu Rin, aku hanya pengin tahu?” tanya Dodi.
“Itu bukan urusanmu, pergilah bersama istrimu, jangan sakiti hatinya,” balas Kirin.
Dodi merasa diabaikan, dia pun pergi dengan sedikit kesal. Ada penyesalan di hatinya.
Seminggu kemudian, Kirin pergi ke pengadilan. Surat cerai yang diurusnya ternyata sudah selesai. Dia berniat kalau Dodi datang lagi Kirin akan memberikannya.
Sesampai di rumah dia melihat ada tamu yang sedang duduk di sopanya. Dengan memberi salam dia masuk. Tersentak Kirin melihat tamu yang sudah menunggunya.
“Hai Rin, dari mana aku sudah lama menunggumu,” ucapnya.
“Syukurlah Mas datang aku tidak kesulitan mencarimu,” ucap Kirin sambil membuka tasnya dan meraih amplop cokelat.
“Nih, Mas surat cerai kita, jangan menggangguku lagi, kita sudah sah bercerai,” jelas Kirin.
Dodi bergeming, serasa otot dengkulnya lemas, dia pun terduduk. Tidak menyangka dia harus bercerai dengan Kirin yang masih mengharapkan dirinya.
“Sekarang, silakan Mas, pergi dari rumah ini,” tegas Kirin.
Dodi tidak terima apa yang dilakukan Kirin, tetiba dia merangkul Kirin dan mengeluarka botol kecil dari sakunya. Kirin berteriak-teriak minta tolong.
“Mengapa kamu lakukan ini Mas, dulu meniggalkanku tanpa alasan yang jelas.
Aku cemburu, kehidupanmu kini sudah mapan, sedangkan aku kekurangan dan tidak punya uang.”
Kecemburuanmu tidak beralasan Mas, lepaskan aku, aku sudah bahagia tanpa dirimu,” jerit Kirin.
“Ha, ha, ha … tidak akan ada yang menolongmu, Kirin,” ucap Dodi puas.
Jakarta, 05 Juni 2023
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan