Berat Hati Memberi Izin
Berat Hati Memberi Izin
Buruh Tani-95
#Tagur-161
@Cerpen
Beberapa saat ruangan hening. Bapak dan Ibu Sita belum bisa memberi jawab.
Mereka masih bingung.
"Sita paham Bapak sama Ibu pasti sangat berat memberi izin. Sita tidak akan meninggalkan Bapak dan Ibu," tutur Sita lirih
Mendengar penuturan Sita, tetiba wajah Ibu berubah, ada senyum di bibirnya. Perasaan lega terpancar di wajahnya.
Ibu Sita tidak mau terulang lagi seperti anak sulungnya yang tidak pernah kembali.
"Nak, maafkan kami orang tuamu yang berat hati memberi izin," ungkap Ibu Sita sedih.
"Sita ngerti kok Bu, Pak, Sita juga masih ragu," balasnya.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka delapan, Sita berpamitan ingin istirahat lebih awal esok pagi dia ingin bangun pagi. Dia berusaha tidak terlambat ke kantor.
"Selamat malam Pak, Bu, Sita istirahat," ucapnya semabari banhkit dari kursinya. Dilangkahkannya kakinya menuju kamar.
Usai melabtunkan doa, Sita merbahkan tuhuhnya di pembaringan. Dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
Angin malam yang masuk ke kamarnya melalui celah-celah dinding membuat Sita kedinginan. Diraihnya selimut menutupi seluruh raganya. Bunyi jangkrik yang bersahut-sahutan mgiringi Sita dalam tidurnya.
"Pak, bagaimana pendapatmu tetang anak kita?" tanya Ibu Sita.
Kita lihat saja Bu, kalau Sita baik-bik saja.
Bersambung....
Jakarta, 21 Agustus 2023
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan