Seir Haidah Hsb

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Aku dan Telur Bebek

Kisahku Dengan Telur Bebek

@Kolom

#Tagur 176/9

Membaca tulisan dari Bu Siska Artati tentang telur asin, aku teringat akan kisah lucu yang pernah dialami.

Awal diterima menjadi PNS, aku ditempatkan di Jakarta Timur.

Belum pernah sama sekali mendengar telur asin. Aku yang baru datang dari P. Siantar tidak pernah mendengar telur asin. Kalau telur bebek sudah pasti kenal karena orang tua pernah beternak bebek.

Kalau kita pergi ke Parapat para pedagang selalu menawarkan telur bebek rebus dan ombus-ombus.

Aku sangat menyukai namanya telur, kuhusnya telur bebek.

Pagi di kantor tempatku mengajar sudah disuguhi telur bebek. Salah satu teman ada yang baru pulang dari kampung tepatnya daerah Brebes, oleh-olehnya adalah telur bebek.

Senang sekali rasanya dapat oleh-oleh telur bebek.

Ucapan terima kasih pun mengalir kepada bu guru yang memberi oleh-oleh telur bebek. Namanya bu Wina. Masing-masing guru mendapat dua butir telur bebek.

" Wak, enak sekali nanti makan pakai telur bebek," gumamku dalam hati.

Telur bebek dimasukkan ke dalam tas.

Sesampai di rumah telur bebek kuraih dari dalam tas. Rasa lapar sudah tak dapat ditahan.

Kuraih piring lalu kusendok nasi dan sayur ke dalam piring. Kukupas telur bebek pemberian teman. Namun ada yang aneh.

"Kok telurnya begini dan baunya pun tak sedap. Ini telur busuk," ucapku mengerutu.

Aku sudah berprasangka buruk terhadap bu guru yang menberi telur bebek.

Tanpa berpikir panjang telur bebek langsung masuk ke dalam bak sampah.

"Huh, tidak jadi makan telur bebek rebus, padahal tadinya sudah menggoda selera makan.

Aku berpikir terus tentang teman yang tega memberi telur busuk.

Keesokan harinya di sekolah kuhampiri temanku yang lain apakah telur yang diberikan sama-sama telur busuk.

"Bu, Nur, kok telur bebek kemarin busuk ya, dua-duanya lagi, akhirnya kubuang ke tempat sampah," ujarku memberengut.

Mendengar penuturanku, tetiba dia tertwa terbahak-bahak. Aku jadi bingung mendengar gelak tawanya.

Bu, kenapa tertawa? tanyaku menimpali.

Ya, yalah bu, itu bukan telur busuk, itu namanya telur asin," ungkapnya sembari menahan perutnya yang sakit karena geli.

Semua teman yang di kantor menjadi ramai dengan tawanya.

Wajahku memerah, rasa malu menyelimutiku.

Mulai saat itu aku mengenal yang namanya telur asin.

Awalnya tidak suka dan baunya yang tidak sedap membuatku tidak mau makan telur asin. Tetapi seiring berjalannya waktu, perlahan kucicipi telur asin bila ada teman yang makan di kantor. Penasaran dengan telur asin. Setelah berulang ternyata telur asin enak juga buat lauk.

Itulah kisahku tentang telur bebek yang disangka busuk ternyata bukan. Itu namanya telur asin.

Jakarta, 13 Oktober 2023

Salam.literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post