Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ketika Ayah Pergi (Part 1)

(Tantangan Hari Ke-13)

27 Januari 2020

"Pulanglah Nak" ucap Ibu dalam telepon dengan suara terbata-bata. Aku terkejut dan sangat cemas, ada apa gerangan? Mengapa Ibu menyuruhku pulang? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.

"Ada apa Bu? Apakah semua baik-baik saja Bu?" tanyaku pada Ibu. Saat itu aku sangat takut. Takut terjadi apa-apa pada ibu atau ayah.

"Ayahmu sakit Nak" ucap Ibu lirih. Suara Ibu terdengar lemah dan tertahan, tiba-tiba telepon terputus. Aku sangat cemas, aku ingin bertemu ayah. Tak terasa airmataku mengalir saat mengenang sosok ayah. Lelaki yang sudah membesarkanku. Seorang sosok yang sangat bijaksana. Banyak orang di luar sana yang mengatakan galak dan menakutkan karena profesinya yang mengharuskan Ayah berkarakter tegas. Tetapi bagi kami Ayah adalah seorang panutan yang sangat baik dan selalu bersikap adil terhadap setiap anak-anaknya. Kami sekeluarga sangat sayang dan menghormati beliau.

Aku kembali teringat telepon Ibu, perasaanku campur aduk. Cemas, sedih, dan tidak tenang. Aku bergegas mengambil telepon genggamku untuk mencari tiket untuk pulang. Setelah beberapa lama mencari, akupun menemukan tiket penerbangan paling pagi dan langsung melakukan pemesanan. Rasanya aku ingin cepat sampai di kotaku.

Keesokan harinya akupun berangkat bersama suami dan anakku. Selama dalam perjalanan hatiku tak tenang. Aku ingin segera sampai dan ingin segera mengetahui keadaan ayahku. Dalam perjalanan aku tetap berdoa dan berharap agar ayahku tidak mengalami sakit yang parah. Perasaan ini mengatakan ada sesuatu dengan ayahku.

"Berilah kesembuhan untuk ayahku ya Allah. Hilangkanlah penyakitnya" doaku.

Satu jam di atas pesawat, akhirnya sampailah aku di kotaku. Dari jauh kulihat adikku sudah menungguku di tempat kedatangan pesawat. Aku tak kuasa menahan perasaanku dan langsung berlari menghampirinya. Adikku hanya diam dan kulihat matanya sembab.

Aku bertanya padanya, "Bagaimana Ayah?"

Dia hanya diam dan kemudian berkata, "kita pulang dulu ya uni. Ibu sudah menunggu." Kemudian adikku langsung menuju mobil sambil membawakan tasku.

Mobil melaju kencang dan adikku tak lagi berbicara sepatah katapun. Firasatku semakin tak enak. "Pasti terjadi sesuatu pada Ayah" batinku.

Entah mengapa perjalanan kali ini terasa lama sekali. Aku ingin segera sampai di rumah untuk bertemu ayah dan ibu. Rasanya ingin aku terbang agar cepat sampai, tapi tak mungkin.

#TantanganGurusiana

#TantanganHariKe13

#SeptaArfina

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post