Dokter yang Berhati Mulia
(Tantangan Hari Ke-24)
Hari sudah menunjukkan pukul 15.00, ketika aku meninggalkan sekolah. Hujan telah berhenti, perutku terasa keroncongan karena tadi hanya makan segelas jus alpukat. Untuk menenangkan perut yang sudah berbunyi, aku harus makan dulu. Makan siang tapi sudah menjelang sore. Tak apalah, yang penting bisa mengisi sumatera tengah alias perut ini.
Selesai makan, aku langsung menjemput anak gadisku yang sedang magang di kantor pajak. Saat itu sudah menunjukkan pukul 16.00.
"Ayo Nak, sudah sore" ucapku.
Sambil berlari, "Iya Bun, ini juga dah selesai" jawabnya sambil terus masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, anakku mengeluh sambil memegang lehernya.
"Bun, kok tenggorokan intan sakit ya? Diam juga sakit" ucapnya sedih. "Intan takut nih" tambahnya lagi.
Aku terdiam. Hatiku langsung tak tenang. "duh ada apa nih dengan anakku?" pikirku.
"Kalau sakit, kita ke dokter aja ya Nak. Biar tahu, dokter tentu bisa melihatnya nanti" ujarku.
Perasaanku tak menentu, "Semoga saja hanya radang tenggorokan biasa" batinku.
Saya langsung menelpon Rumah Sakit yang ada dokter THTnya. Anakku kebagian antrian 4 tapi dimulainya pukul 19.00. Akhirnya aku pulang dulu. Sampai rumah sudah menjelang maghrib. Akupun langsung siap-siap mandi dan sholat magrib. Walau badan lelah, belum sempat istirahat dari pagi, aku dan anakku harus berangkat ke Rumah sakit untuk berobat. Mudah-mudahan tidak terlambat.
Sampai di Rumah Sakit kami langsung ke bagian pendaftaran dan harus menunggu beberapa saat. Banyak orang mondar-mandir dihadapanku. Mereka ada yang sakit, ada yang mengantar. Menjelang isya, panggilan untuk anakku, kebagian antrian 4. Bergegas aku bagian poli THT, dan langsung memberikan berkas sama perawat yang bertugas.
"Maaf Bu, ditunggu sebentar ya soalnya dokternya sholat Isya dulu ke Mesjid" ucap susternya dengan lembut.
"Oh iya suster, biar saya tunggu" jawabku sambil tersenyum.
Tak lama menunggu, dokternya pun datang.
"Khaira" panggil suster
"Ayo Nak," kataku sambil berdiri dan mengganggukkan kepala dan tersenyum pada suster yang memanggil nama anakku.
Dokter tersenyum manis saat kami masuk. Hati terasa senang, dokternya sepertinya baik dan rendah hati. Sikap dokter seperti ini setidaknya sudah mengurangi rasa sakit pasien secara psikologi.
"Ayo silakan duduk, siapa yang sakit nih? , ucapnya dengan tetap tersenyum.
"Khaira Dok, anak gadisku." Jawabku.
"Sakit apa Khaira?" tanya Pak Dokter.
Sambil memeriksa sang dokter bertanya beberapa tentang apa yang dirasakan anakku, ternyata anakku hanya terkena radang tenggorokan biasa, mungkin pengaruh cuaca juga.
Setelah itu dokter memberikan beberapa nasihat untuk kami. Saya merasakan dokter ini bukan saja sebagai dokter tapi juga seperti guru atau Bapak yang memberikan nasihat yang berarti pada pasiennya. Sambil menuliskan resep obat, beliau mengingatkanku bahwa kita ada pemiliknya. Untuk sembuh minta sama pemiliknya, dokter hanya perantara saja. Pemiliknya yang berhak adalah Allah, itu kata beliau. Beliau juga mengingatkanku, bahwa doa seorang ibu sangat manjur. Maka mintalah sama Allah sebanyak-banyaknya, dengan cara menunaikan shalat wajib tepat waktu, tahajud, duha dan puasa senin dan kamis. Itu salah satu pesan beliau yang membuat hatiku takjub. Biasanya dokter ingin cepat menyelesaikan pemeriksaan dan memanggil pasien berikutnya, tapi dokter yang baik hati ini sepertinya tidak, beliau berbincang dengan santai sambil tersenyum. Ia bercerita banyak hal tentang kehidupan ini. Setelah sekian lama berbincang, akhirnya kami pamit dan bersalaman sambil mengucap salam karena telah selesai pengobatan. Kami keluar ruangan dokter dan langsung ke apotek mengambil obat.
Banyak hal yang bisa saya rasakan dari pengalaman konsultasi dengan pak dokter ini, menjadi dokter adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Tapi menganggab pasien tamu dan melayani dengan ramah dan sepenuh hati adalah merupakan obat juga bagi pasien. Pasien akan merasa senang dan tidak ada rasa kaku dan takut ketika berkonsultasi. Bahkan pasien bisa tertawa lepas ketika bercerita dan dokter mengapresiasi cerita pasien. Ini pengalaman yang berharga bagiku.
Hari semakin malam, jamku menunjukkan pukul 22.00 sampai rumah. Pikiranku galau lagi, tantangan gurusianaku belum ditulis. "oh Tuhan tolong aku, beri petunjuk. Mau menulis apa ya?" batinku
#TantanganGurusiana
#TantanganHariKe24
#SeptaArfina
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan