Pacu Jawi
(Tantangan Hari Ke-26)
Pacu jawi adalah acara olahraga tradisional yang dilombakan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Dalam acara ini, sepasang sapi berlari di lintasan sawah berlumpur dengan panjang sekitar 70-200 meter, sementara seorang joki berdiri di belakangnya dengan memegang kedua sapi (wikipedia)
Waktu aku kecil dulu, pacu jawi sering diadakan di desaku Talang Tangah, kecamatan Sungai Tarab. Pada kesempatan itu aku dan teman - temanku ikut menyaksikan pacu jawi ini. Kami berjalan kaki bersama-sama menuju lokasi pacu jawi yang diadakan di area sawah yang sudah diberi air. Pacu jawi ini dilaksanakan biasanya setelah panen padi. Hal ini dilaksanakan sebagai rasa syukur warga atas hasil panen.
Pacu jawi dalam Bahasa Indonesia adalah Balap sapi. Acara ini sebenarnya bukan lomba adu kekuatan sapi. Tapi adalah lomba lari sapi untuk menentukan sapi yang berlari cepat dan lurus. Perlombaan sepasang sapi dengan pasangan sapi yang lain dikendalikan oleh seorang joki dan masing-masing berlari secara bergiliran di sawah yang sudah diairi seperti lumpur. Sapi untuk pacu jawi adalah sapi jantan yang diikat ke sebuah alat yang terbuat dari kayu dan di situlah tempat joki berdiri.
Menonton pacu jawi merupakan kegiatan yang sangat menarik. Sapi-sapi yang sudah terlatih ini mulai berlari saat diberi aba-aba, ketika kayu menyentuh tanah dan diinjak oleh jokinya, joki berdiri dan mengendalikan sapi dengan memegang ekor kedua sapi. Sapi tidak dilecut seperti kuda, tapi digigit ekornya kalau larinya lambat. Diusahakan sapi tidak terpisah atau lari. Sapi harus tetap bersama sampai ke garis finish dan harus lurus.
Pengunjung bersorak-sorai di pinggir sawah menyaksikan sapi berlari bersama jokinya yang sudah bermandikan lumpur. Penonton berteriak meneriakan jagoannya. Pengunjung tidak hanya warga desaku saja, warga desa tetangga pun ikut berdatangan untuk menyaksikan pacu jawi. Yang paling asyik dilihat adalah ketika jawi atau sapi yang sulit dikendalikan, sehingga joki sering terjatuh dan berkubang lumpur. Bisa-bisa penonton pun ikut kecipratan lumpur. Tak jarang sapi berbalik arah dan kemudian berlari ke arah penonton. Penonton lari berhamburan untuk menghindari amukkan sapi. Suasana seperti ini sangat menyenangkan.
Pemenang dalam pacu jawi adalah yang bisa berlari dengan kemampuan berlari lurus. Menurut tradisi, ini adalah sebuah makna yang mengajarkan agar masyarakat tetap berjalan lurus dalam kondisi apapun. Ini dapat diambil dari penilaan pacu jawi bahwa sapi yang lurus larinya walaupun penuh lumpur adalah pemenangnya
Acara pacu jawi diresmikan oleh Ninik Mamak setempat dengan mengundang tokoh masyarakat dari desa sebelah dan kemudian juga ditutup oleh Ninik Mamak setempat jika acara pacu jawi telah selesai.
Satu lagi yang mengasyikan bagi penonton termasuk aku dan teman-temanku adalah di area pacu jawi disediakan warung penjual makanan khas minang yang enak-enak. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat, semua ada di situ. Dulu tujuan utamaku menonton pacu jawi adalah "balanjo" alias jajan.
Sampai sekarang pacu jawi masih dilaksanakan di kampungku. Sehabis panen raya, Ninik Mamak dan pemuka masyarakat akan merencanakan pacu jawi. Karena sudah merupakan tradisi. Hanya saja aku sudah lama tidak menyaksikan lagi karena tidak tinggal di kampung lagi.
Suatu waktu aku ingin menyaksikan pacu jawi lagi. Aku rindu masa-masa itu. Ada yang ingin ikut denganku? Silakan isi di kolom komentar ya sobat
#TantanganGurusiana
#TantanganHariKe26
#SeptaArfina
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan