Karena Aku Kakakmu
(Tantangan Hari Ke-77)
Oleh : Septa Arfina
Aku memandangi adik bungsuku yang memakai baju wisuda dan toga. Dia tampak sangat cantik dan bibirnya tak lepas dari senyuman. Tanpa sengaja bulir air mataku jatuh. Tugasku selesai mengantarkan semua adikku jadi sarjana. Aku senang sekali, "Terima kasih ya Allah atas rahmat-Mu padaku, Engkau bisa mewujudkan impianku,” gumamku.
“Kak sini, berdiri dekatku. Kita foto bersama Kak,” ajak Ratih adikku.
Aku terlalu hanyut dengan kegembiraan ini sampai aku lupa kalau aku sedang berada diantara para wisudawan kampus ini.
“Oooo iya Sayang, kakak sampai lupa. Kamu cantik sekali Dik. Selamat ya, semoga menjadi gadis yang hebat dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujarku sambil berjalan mendekatinya.
Adikku menggandengku dan menciumku dengan manja. Adik yang satu ini paling manja denganku. Ia sangat dekat denganku. Maklum mungkin karena ia bungsu di keluargaku.
Sejak ayah meninggal, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, jadi tak mungkin bisa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Maka, aku sadar sebagai anak tertua aku harus mengalah. Sejak itu pula aku mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang dokter.
Aku mulai berusaha untuk memulai usaha yaitu menjadi seorang penjual kue basah. Mula-mula hanya kecil-kecilan, lama kelamaan akhirnya usaha kueku berkembang dan mulai menggunakan karyawan. Pesanan datang silih berganti. Akhirnya kehidupan keluargaku bisa teratasi dan adik-adikku semuanya bisa aku sekolahkan menjadi sarjana. Adikku yang pertama telah menjadi guru di sebuag kota dan sudah menikah. Adikku yang kedua telah menjadi sarjana hukum dan bekerja di sebuah perusahan ternama, dan Ratih, si bungsu yang kini sudah menyelesaikan studi kedokterannya. Sesuai dengan impianku. Ia telah mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang dokter. Aku bangga sekali, kerja kerasku telah membuahkan hasil.
“Kak, jangan melamun terus. Lihat, aku sudah mewujudkan impian Kakak. Kakak senang kan?” ujar Ratih dengan penuh kegembiraan.
“Iya Sayang, kakak senang dan bangga sekali. Kakak hanya terharu, ternyata kamu udah gede, sudah menjadi dokter impian kakak,” jawabku sambil memeluknya.
Langit cerah, secerah suasana hatiku. Matahari bersinar lembut, angin sepoi-sepoi memberi kesejukan kepada semua keluarga yang hadir dalam wisuda adikku ini. Kulihat ibu sedang memandangiku dengan senyum penuh kebanggaan. Begitu pula dua adikku yang lain, mereka perlahan mendekatiku dan langsung memelukku.
“Anakku Ratna, Ibu tak tahu harus berkata apa lagi saat ini. Ibu beruntung sekali memilikimu Nak. Allah telah mengirimkan seorang malaikat kepada keluarga kita yaitu kamu Nak,” ucap Ibu sambil tak berhenti memelukku.
Ibu melepaskan pelukannya dan memandangiku lalu tersenyum sambil berkata, “sudah saatnya kamu memikirkan dirimu ya Nak. Besok ada anak teman Ayah yang datang ingin bertemu denganmu, ditemui ya?”
Tinggal aku yang masih bingung mengartikan senyuman Ibu. Tapi ya sudahlah aku tak mau memikirkan itu. Sekarang aku sangat bahagia karena tugasku sudah selesai. Aku memeluk ibu dan ketiga adikku dengan penuh syukur.
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan