Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kerudung Merah Jambu (Part 1)

(Tantangan Hari ke-69)

Oleh : Septa Arfina

Anita masih berdiri di depan butik itu, dari jauh ia memperhatikan sebuah kerudung yang berwarna merah jambu. Matanya menatap tak berkedip pada kerudung itu.

“Bisakah aku memilikinya?” gumamnya sambil berlalu.

Esok pagi Anita berlari menuju sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 yang artinya ia sudah terlambat. Ia takut bu guru akan marah lagi. Sebab sudah beberapa hari ini ia selalu terlambat. Benar saja, saat ia baru saja sampai di pintu gerbang, bel sudah berbunyi. Anita berjalan dengan tergesa, jantungnya berdegup kencang.

“Bu Septa pasti sudah masuk. duh bagaimana ini,” gumamnya. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, ia mengetuk pintu kelas sambil mengucapkan salam.

(Tok..tok..tok) “Assalamu'alaikum, maaaaaf Bu saya terlambat lagi,” ucap Anita terbata-bata.

“Wa'alaikumsalam. Kamu baru datang Anita, terlambat lagi?,” jawab Bu Septa dengan penuh tanda tanya.

Bu Septa tetap tenang menghadapi Anita yang sering terlambat. Bu Septa hanya tak habis pikir, apa sebenarnya yang membuat Anita sering terlambat. Apa mungkin Anita punya masalah yang berat dan ia harus menyelesaikan sendiri masalahnya?

“Maaf Bu, saya terlambat, karena tadi saya bangun kesiangan. Maaf ya Bu, besok saya janji tidak terlambat lagi,” jawab Anita gugup.

“Anita, Ibu tak marah kamu terlambat. Tapi kalau kamu ada masalah, kamu cerita ya sama ibu. Biar ibu tahu apa masalahmu,” ucap Bu Septa lembut.

“Tidak ada apa-apa Bu. Benar saya kesiangan,” kata Anita pelan.

“Ya sudah kalau begitu, besok jangan terlambat lagi ya,” jawab Bu Septa sambil membelai rambut Anita.

Bel pulang berbunyi, Anita buru-buru mengambil tasnya. Cuaca panas tak dihiraukannya, ia berlari menuju rumah. Sampai rumah ia langsung ganti baju, makan dan pamit sama ibu untuk pergi.

“Bu, Anita mau belajar kelompok ya,” kata Anita sambil mencium tangan Ibunya.

“Baiklah Nak, hati-hati ya. Jangan pulang malam lagi seperti kemarin. Ibu khawatir Nak,” kata Ibu dengan lembut. Sebelum Anita pergi, sang Ibu memandangi wajah anak semata wayangnya itu. Sejak ditinggal ayahnya merantau dan tak pernah pulang, Anita hidup dengan sederhana. Untuk menyambung hidup, Ibunya menerima jahitan dari para tetangganya. Kasihan dirimu Nak, gumam Ibu Anita dalam hati.

Sudah berapa hari, Anita selalu pergi lagi setelah pulang sekolah. Ia selalu pulang setelah maghrib. Ibunya dan Bu Septa tak tahu apa yang dilakukan Anita di luar sana. Kadang ia masih terlambat datang ke sekolah. Begitulah setiap hari, apa yang dilakukannya masih misteri. Kalau ditanya jawabannya selalu ada kerja kelompok.

Bersambung ya Gurusianer, tunggu besok kelanjutannya. Bagaimanakah akhirnya? Nantikan kelanjutannya ya.

Salam Literasi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post