Kerudung Merah Jambu (Part 2)
(Tantangan Hari Ke-73)
Oleh : Septa Arfina
Hari ini, Anita terlambat pulang. Adzan sudah berkumandang dari tadi, namun Anita belum pulang juga. Ibunya sangat khawatir. “Kemana kamu Nak,” gumamnya. Biasanya saat adzan maghrib Anita sudah berada di rumah. Ia akan terus mandi dan menemui ibunya untuk bercerita sambil memeluk ibunya. Di luar sudah mulai gelap, hanya suara jangkrik yang terdengar memecah kesunyian. Waktu terus beranjak, Anita belum juga pulang.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, (Tok..tok..tok) ”Assalamu'alaikum Bu. Ibu, maaf Bu Anita terlambat. Tadi Anita belajarnya sampai maghrib karena besok ada tugas kelompok yang harus dipresentasikan. Ibu nggak marah kan?,” ujarnya meyakinkan Ibunya.
“Anita, Ibu sangat khawatir. Lain kali jangan diulang lagi ya. Ibu takut kalau terjadi apa-apa denganmu, Nak. Ibu nggak punya siapa-siapa lagi selain dirimu,” ucap Ibu sambil memeluk Anita.
“Ibu jangan khawatir, inshaAllah Anita baik-baik saja,” jawab Anita sambil terenyum untuk meyakinkan ibu tercintanya.
Anita mulai belajar dan mengerjakan PR. Ia tidak mau jika besok sampai dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR. Ia merasa bersalah sebetulnya karena sudah membuat ibunya cemas, tapi ia harus melakukan ini. Ia tak punya uang untuk membeli kerudung merah jambu yang pernah diinginkan ibunya. Dulu, Ibunya punya kerudung berwarna merah jambu pemberian ayahnya. Ibu sangat bahagia ketika ayah membelikan kerudung itu. Tapi suatu hari kerudung itu diminta kembali oleh ayah untuk diberikan kepada wanita lain yang ditemui Ayah di tempat kerjanya. Sejak itu Ibu merasa sedih, kerudung kesayangannya diambil lagi oleh Ayah. Itulah sebabnya Anita ingin membelikan ibu kerudung warna merah jambu itu, karena kerudung itu sangat berarti bagi Ibu. Setelah menyelesaikan PRnya, Anita tertidur karena ia merasa lelah setelah seharian bekerja di luar untuk mengumpulkan uang untuk membeli kerudung Ibu.
Hari ini Anita tidak terlambat, tapi wajahnya terlihat lelah. Ia tak ingin Bu guru tahu apa yang dilakukannya. Ketika bel berbunyi ia langsung masuk kelas, kemudian duduk di tempatnya. Ia pikir inilah saatnya ia istirahat sebentar menunggu Bu guru masuk. Tak lama Bu guru masuk, seperti biasa anak-anak berdoa dan mengucapkan salam. Bu guru mulai memberikan materi pelajaran, kemudian memberi tugas yang berhubungan dengan materi pelajaran. Bu guru berkeliling memperhatikan siswa yang sedang mengerjakan tugas. Iia lihat Anita masih melamun wajahnya pucat. “Apa yang terjadi dengan anak ini," batinnya.
Waktu terasa lama bagi Anita. Jam dinding terasa lambat berputar. Pikirannya tidak bisa fokus dalam belajar. Berbagai perasaan berkecamuk dalam pikirannya. Ditambah badannya juga kurang enak karena tidak pernah istirahat beberapa hari ini. Ia ingin bel pulang segera berbunyi. Tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap, tanpa sadar ia pun terjatuh dari bangkunya.
“Bu, Anita jatuh,” ujar teman sebangkunya.
Bu guru bergegas menuju meja Anita dan meminta anak-anak untuk membantu membawa Anita ke ruang UKS.
Sampai di UKS, Bu guru membaringkan Anita di tempat tidur yang tersedia. Dipandanginya wajah Anita, wajah polos yang cantik. Anita yang tak pernah mengeluh meski ia sering menegurnya karena terlambat. Anita sebetulnya anak yang periang dan rajin. Teman-teman suka padanya. Tapi akhir-akhir ini ia sering kesiangan, wajahnya terlihat lelah, sepertinya ia melakukan sesuatu yang bu guru dan ibunya tak tahu.
Bersambung..
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan