Kunanti Pinanganmu Uda Syaiful
(Tantangan Hari Ke-64)
Oleh : Septa Arfina
Hujan baru saja berhenti mengguyur jalan Air Tawar kota Padang. Rifqi yang dari tadi berteduh di warung, bergegas menyeberang menuju arah tempat kosnya di perumahan Air Tawar seberang jalan. Rifqi berjalan dengan langkah cepat karena ia takut hujan turun lagi.
“Alhamdulillah akhirnya hujan berhenti dan sudah sampai di kos”, gumam Rifqi dalam hati.
Sesampainya di kos, Rifqi merebahkan badannya. Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi, ia bertemu dengan seorang pemuda yang menubruknya di depan halte. Laki-laki itu meminta maaf sambil mempertemukan kedua telapak tangannya. Rifqi berpikir, rasanya ia pernah bertemu laki-laki itu. Tapi dimana ya? Pikirannya berusaha mengingat. Tapi ya sudahlah, batin Rifqi.
Pagi harinya Rifqi bergegas mandi dan bersiap-siap. Di luar cuaca cerah, burung berkicau menyambut pagi, dan langit menguning pertanda raja siang sebentar lagi keluar dari peraduannya. Setelah minum segelas susu, Rifqi pun berangkat. Saat ia menuju kampus, jantungnya berdegup. Ia berpapasan lagi dengan laki-laki yang menubruknya kemarin. Ia merasa grogi tapi tetap terus berjalan. Rifqi memandang selayang pada lelaki itu, dan ternyata laki-laki itu juga sedang memandangnya. Ia pun berlalu.
Kuliah hari ini selesai, ia bergegas untuk pulang. Sebelum pulang, Rifqi mampir dulu ke masjid untuk shalat zuhur. Ia sholat dengan khusyu’ sambil berdoa untuk masa depannya. Selesai sholat, Rifqi berjalan keluar masjid dan kembali terpana karena matanya bertemu lagi dengan laki-laki yang beberapa hari ini hadir dalam pikirannya. Tak disangka laki-laki itu menghampirinya,
“Maaf, kamu yang saya tubruk kemarin ya?”, tanyanya. “Perkenalkan, saya Syaiful Rahman. Panggil saja Syaiful”, ucapnya sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali, membuat Rifqi makin terpana.
“Oh ya, nama saya Rifqi Risna, panggil saja Rifqi. Rasanya kita pernah bertemu. Tinggalnya dimana Uda?”, tanya Rifqi penasaran
“Saya tinggal di perumahan ini, jalan garuda no 8”, jawabnya.
“Wah ternyata kita satu komplek ya. Saya tinggal di jalan garuda juga, tapi no 1”, jawab Rifqi.
Sejak pertemuan itu Rifqi sering bertemu Syaiful. Rifqi senang bisa mengenal Uda Syaiful. Dia lelaki yang baik dan sholeh. Hal itu membuat Rifqi semakin kagum dengan Uda Syaiful. Syaiful pun senang berkenalan dengan Rifqi. Menurut Syaiful, Rifqi adalah gadis yang baik, sholehah, dan cantik. Merekapun semakin dekat. Sampai suatu hari Uda Syaiful menyatakan bahwa ia mencintai Rifqi.
“Rifqi, sebetulnya sudah lama saya merasakan ini, saya merasa senang jika berada dekatmu, maukah Rifqi menjadi kekasih Uda?”, tanyanya dengan terbata-bata.
“Perasaan kita sama Da Syaiful, saya juga merasakannya. Saya akan setia mendampingi Uda sampai kapanpun”, ucap Rifqi dengan tersipu malu. Rifqi bahagia sekali karena merasa doanya dijabah oleh Allah.
Sejak itu, Rifqi dan Syaiful selalu bersama. Dimana ada Syaiful disitu ada Rifqi, mereka benar-benar bak Romi dan Yuli. Rifqi merasa bahagia, hari-harinya selalu ceria. Sampai pada akhirnya Syaiful lebih dulu menyelesaikan studinya, dan ia pun berencana mencari kerja ke Jakarta.
“Rifqi, rencananya Uda akan mencari kerja ke Jakarta. Doakan Uda ya. Nanti kalau sudah dapat kerja, Uda akan pulang melamar Rifqi”, ucap Syaiful dengan perasaan sedih, karena akan meninggalkan kekasih yang dia cintai.
Rifqi tertegun mendengar pernyataan Uda Syaiful, ia tidak menyangka uda Syaiful akan meninggalkanya. Walaupun ia berjanji akan datang melamar Rifqi nantinya..
“Apa boleh buat Uda, Rifqi ikhlas melepas Uda, asalkan Uda tidak melupakan Rifqi“, ucap Rifqi sambil mengusap air matanya. Hatinya sedih berpisah dengan lelaki yang dicintainya itu, namun ini harus dihadapinya..
Sejak uda Syaiful pergi, Rifqi tinggal dengan perasaan sedih dan sepi. Ia sering memikirkan Uda Syaiful. Sudah lebih 6 bulan Uda Syaiful pergi, tapi belum ada kabarnya. Rifqi mulai berpikir yang bukan-bukan. Tapi ditepisnya pikiran itu, Uda Syaiful tak mungkin melupakannya. Uda Syaiful sudah berjanji untuk melamarnya nanti”, gumam Rifqi.
Hari demi hari Rifqi isi dengan semangat untuk menyelesaikan kuliahnya, Rifqi ingin cepat wisuda. Ia belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Ia tak mau mengecewakan orangtuanya dan ingin dapat nilai bagus. Sampai akhirnya Rifqi menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan nilai cumlaude. Saat Rifqi Wisuda, ia didampingi ayah, ibu, dan saudaranya, tak ada Uda Syaiful di sampingnya.
. Ia berdiri sambil memegang ijazahnya, tiba-tiba seorang lelaki yang sangat ia kenali datang menghampirinya.
“Uda Syaiful?”, ucapnya
“Rifqi, selamat ya. Rifqi telah wisuda, Uda bangga sama Rifqi”, kata Syaiful dengan mata yang berbinar-binar.
Air mata Rifqi tak bisa dibendung lagi, ia menangis dan tak percaya uda syaiful berdiri di depannya.
“Uda Syaiful benarkah? Alhamdulillah Uda datang di hari bahagiaku”, ucap Rifqi.
“Maafkan Uda ya Rifqi. Uda tidak memberi kabar padamu karena Uda fokus pada cita-cita Uda untuk memberi masa depan yang baik untuk kita. Maafkan uda ya Rifqi”, tanya Syaiful sambil menggenggam jemari Rifqi.
Rifqi tak kuasa menahan kebahagiaannya, ia percaya Uda Syaiful tak akan melupakannya
“Iya Uda, Rifqi selalu setia menunggu uda, karena Rifqi percaya sama Uda. Uda orang sholeh. Uda pasti akan memegang janji Uda sama Rifqi”, ucap Rifqi dengan ungkapan bahagia.
Akhirnya syaiful dan Rifqi hidup bahagia. Memang betul, orang yang baik akan dipertemukan dengan yang baik pula, seperti kisah cinta Syaiful Rahman dengan Rifqi Risna.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan