Aku Ingin Disayang Ibu
(Tantangan Hari Ke-84)
Oleh : Septa Arfina
“Dik, ayo kumpulan bajumu dan Nisa, kita harus pulang besok. Ibu sakit Dik. Kita tengok ya,” kata Bang Hamdi tiba-tiba saat baru pulang kantor.
“Ya Allah Ibu sakit apa Bang? Tapi Abang serius? Gapapa kalo aku ikut pulang Bang? Aku takut, nanti ibu tidak suka dengan kedatanganku. Sampai sekarang kan Ibu belum terima pernikahan kita Bang,” jawabku sambil menatap Bang Hamdi.
Tiga tahun yang lalu Bang Hamdi menikahiku. Sebelum menikah, Bang Hamdi sudah meminta izin sama ibu dan ayah serta keluarga Bang hamdi. Namun Ibu Bang Hamdi tidak menyetujui karena kami tidak satu daerah. Ibu ingin Bang Hamdi berjodoh dengan orang pilihan Ibu di kampung. Saat itu Bang hamdi tetap menikahiku sampai akhirnya kami dikaruniai seorang putri yang cantik, Nisa.
Sejak menikah aku tak pernah menghalangi Bang Hamdi untuk menemui Ibunya. Bahkan aku selalu mengingatkan agar Bang Hamdi sering-sering menengok Ibu atau menelepon Ibu. Kalau lebaran, aku selalu meminta Bang Hamdi untuk lebaran bersama Ibu dan keluarganya terlebih dahulu, setelah itu baru ia pulang dan berlebaran dengan aku dan Nisa. Begitulah setiap tahunnya yang dilakukan Bang Hamdi. Aku tak mau karena kehadiranku, keluarga Bang Hamdi merasa aku menjauhkannya. Meski kami sudah menikah tak ada yang berubah dari Bang Hamdi. Ia tetap anak dari ibu dan saudara dari keluarganya. Aku tak mau menjadi jurang pemisah diantara mereka. Aku ingin meyakinkan mereka bahwa aku adalah menantu yang terbaik baginya.
“Dik, kok melamun? Tenang ya, ada abang yang menemani. Yang penting sekarang kita pulang dulu,” tiba-tiba sapaan Bang Hamdi membuyarkan lamunanku.
“Iya Bang, aku agak takut. Bagaimana keadaannya nanti kalau kita dah sampai di kampung Abang,” jawabku sambil membereskan koper yang akan kami bawa besok pagi.
Bang hamdi hanya diam. Mungkin dia berpikir sama seperti apa yang kupikirkan.
Esok harinya, kami bertiga berangkat menuju kampung bang Hamdi dengan pesawat pagi. Aku tak berkata apa-apa selama dalam perjalanan, bang Hamdi juga begitu, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya Nisa yang selalu berceloteh selama perjalanan, jika lelah maka diapun akan tertidur.
Dua jam perjalanan sampailah kami di kampung Bang Hamdi, aku berjalan perlahan mengikuti bang Hamdi,
“Assalamu’alaikum Bu,” sapa Bang Hamdi.
Tanpa menunggu jawaban kami pun masuk. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah.
“Wa’alaikumsalam Hamdi. Alhamdulillah sudah sampai ya. Ibumu menanyakanmu terus,” sapa Ayah.
Semua menyapa Bang Hamdi, sedangkan padaku hanya tersenyum sedikit saja. Aku tetap tegar, aku tidak berkecil hati. Aku tersenyum dan menyalami semuanya. Setelah beramah tamah dengan seluruh anggota keluarga, aku mengikuti Bang Hamdi yang menuju ke kamar ibu. Kakiku gemetaran karena yang paling membuat aku takut adalah ibu. Kulihat ibu sedang rebahan di tempat tidur. Matanya menatap kami bertiga,
“Bu, kami datang. Ibu apa kabar?,” sapa Bang Hamdi sambil mencium tangan Ibu, disusul olehku.
“Ibu, kami pulang menengok ibu, Ibu cepat sembuh ya,” ujarku sambil duduk dipinggir tempat tidur.
Ibu hanya berbicara dengan bang Hamdi, tapi beliau memegang Nisa, sepertinya ia tetap sayang dengan anak kami yang merupakan cucu beliau. Aku tetap tersenyum dan tidak berkecil hati, aku ingin buktikan bahwa bang Hamdi tak salah memilih aku sebagai istrinya, menantu ibu.
Selama berada di rumah Bang hamdi, tugas ibu ku kerjakan semua. Aku mengurus ibu dengan penuh kasih, menyuapi ibu, mengganti baju ibu, semua keperluan ibu ku urus dengan sempurna. Begitu juga dengan ayah, semua keperluan ayah kusiapkan. Rumah menjadi gembira karena adanya si kecil Nisa anakku. Ia dengan lincahnya berjalan dan berceloteh bersama ayah, kakeknya. Kadang masuk kekamar ibu sambil memanggil neneknya. Kini Ibu sudah hampir pulih. Ibu sudah mulai merasakan ketulusanku dalam merawatnya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Akhirnya Ibu mulai tersenyum padaku dan Ibu mulai menyayangiku.
Terima kasih Ya Allah, berarti besok kami bisa kembali ke kota tempat tinggal kami dengan senyuman. Ibu telah merasakan bahwa aku menantu yang di harapkan ibu dan ayah. Aku sangat bersyukur dan bahagia.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan