Anak Kecil di Halte Bus Kota
(Tantangan Hari Ke-82)
Oleh : Septa Arfina
Hujan masih turun dengan lebatnya, aku masih berdiri di halte bus kota jurusan arah ke rumahku. Udara mulai terasa dingin. Aku mulai kedinginan, kurapatkan tangan memeluk diriku sendiri. Kantong plastik berisi mie ayam yang kubeli di depan kantor tadi, kupegang erat. Ini adalah pesanan ibuku. Semalam ibu berkata ingin makan mie ayam yang ada di depan kantorku, semalam ibu kurang enak badan, jadi rasanya ingin cepat pulang.
Hujan belum reda dan orang-orang semakin ramai. Aku bergeser ke pinggir agar tidak bersinggungan dengan penunggu lain. Hari makin sore, sebentar lagi maghrib datang.
“Duh mana busnya? Sudah hampir dua jam di sini,” aku mulai tak sabar.
Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, apalagi kalau jam pulang begini. Aku terus memperhatikan jalanan agar aku tidak ketinggalan bus. Sedang asyiknya menunggu tiba-tiba mataku tertuju pada anak kecil disampingku, ia terus memandangku. Matanya sayu dan bajunya basah kuyup. Ia tak berhenti menatapku, bibirnya bergetar lalu ia memandang kantong plastik yang kubawa. Dari plastik itu, tercium aroma mie ayam yang kubeli tadi. Aku tak tega, tapi bagaimana dengan ibu dirumah?
Aku membungkukkan badanku agar bisa sejajar dengannya. “Ada apa Dik? Kamu belum makan?,” tanyaku serius sambil memandang wajahnya.
Gadis kecil itu menggeleng, sambil matanya tak lepas memandangku. Tubuh kecilnya seakan bicara dia sedang kelaparan. Akhirnya kuputuskan untuk memberikan mie ayam yang kubawa untuk ibu padanya.
“Kamu mau makanan ini? Nih ambil. Kamu bisa makan sekarang,” ucapku dengan penuh kasih sambil memberikan mie ayam itu padanya.
“Alhamdulillah, terima kasih Kak. Semoga Kakak disayang Allah,” jawabnya sambil mengambil kantong mie ayam yang kuberikan. Matanya berbinar, dia kelihatan gembira sekali. Dia berlari ke ujung halte. Kuikuti dengan pandanganku, ternyata ia langsung makan dengan lahapnya. Kuperhatikan dari jauh, anak kecil itu makan seperti orang yang belum makan selama berhari-hari. Dia tak mempedulikan orang sekitar yang memperhatikannya. Yang penting hari ini bisa makan, mungkin itu yang ada dalam pikirannya.
Mataku mulai berkaca-kaca melihatnya. Betapa aku perlu bersyukur lebih banyak lagi. Nikmat Allah begitu banyak untukku. Sementara anak itu hanya bisa memikirkan apa yang akan dimakannya hari ini. Bisa makan hari ini saja, bahagianya luar biasa.
Hari ini aku dapat pembelajaran yang sangat berharga dari seorang gadis kecil yang ku jumpai di halte. Betapa kita perlu bersyukur lebih banyak lagi atas semua rejeki yang diberi Allah untuk kita, janji Allah, “Jika kalian bersyukur, maka akan Ku tambah nikmatnya. Tapi jika kalian mengingkarinya, maka azab-Ku amatlah pedih”.
Ku langkahkan kakiku kembali ke kantor. Aku harus lagi membeli mie ayam pesanan ibu. Hatiku tenang. Hari ini aku telah melakukan sesuatu yang sangat berarti buat orang lain, meskipun nilainya tak seberapa bagi orang yang memiliki.
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan