Memajukan Literasi Adalah Impianku
(Tantangan Hari Ke-78)
Oleh : Septa Arfina
Saya adalah seorang guru yang mengajar di SMPN 3 karawang Barat. Selain melaksanakan kegiatan utama sebagai pengajar, saya ditugaskan menjadi kepala perpustakaan. Saya juga menjadi pembina ekstrakurikuler literasi. Ekstrakurikuler yang membuat saya bisa mengembangkan ilmu literasi yang saya miliki. Saya akan berbagi cerita tentang bagaimana saya mengembangkan literasi di sekolah, semoga bisa menjadi inspirasi untuk para guru yang bergerak di bidang literasi.
Tahun 2016 saya ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan bertema literasi di provinsi. Pelatihan ini memberikan materi tentang bagaimana cara mengembangkan kegiatan literasi di sekolah. Pelatihan ini diselenggarakan atas kerjasama dengan WJLRC Australia. Saya merasa beruntung bisa mengikuti pelatihan ini dan saya berencana ingin mengembangkan literasi di sekolah.
Setelah pelatihan itu, saya mulai merencanakan apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan literasi. Alhamdulillah rencana saya didukung oleh kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. Untuk mengembangkan literasi ini, maka sebagai penggerak literasi pertama di sekolah, saya melakukan beberapa hal:
1. Membentuk ekstrakurikuler literasi
Dengan adanya ekstrakurikuler ini, anak-anak bisa lebih mendalami tentang literasi. Siswa yang berbakat diarahkan untuk mengikuti ekstrakurikuler ini, anak- anak diajarkan berbagai macam hal tentang literasi. Mulai dari membaca, membuat jurnal, membuat reviu, dan kegiatan pengembangan diri lainnya. Ekstrakurikuler literasi ini mendapat sambutan baik dari kepala sekolah dan warga sekolah. Ekstrakurikuler ini dijadwalkan satu minggu sekali, yaitu setiap hari senin pukul 14.00 sampai pukul 17.00. Kegiatan literasi berjalan dengan lancar, peserta ekstrakurikuler literasi selalu semangat mengikutinya.
2. Membuat jurnal literasi dan pohon literasi
Jurnal literasi adalah sebuah buku yang dimiliki seluruh siswa di sekolah yang bertujuan untuk menunjang program GLS yang dianjurkan mendikbud yaitu membaca 15 menit sebelum awal pembelajaran. Seluruh siswa harus memiliki jurnal ini untuk menuliskan tentang buku yang sedang dibaca. Jurnal ini berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa membaca dan berapa buku yang sudah dibaca. Disamping itu, setiap kelas diwajibkan membuat pohon literasi. Pohon literasi bermanfaat untuk siswa yang sudah menyelesaikan buku yang ia baca. Pohon akan dipenuhi dengan keterangan buku yang dibaca siswa yang ditulis di sebuah kertas dalam bentuk daun.
3. Membuat Tantangan Reviu,
Sebagai pelopor literasi, saya menganjurkan kepada siswa untuk membuat reviu setiap buku yang dibaca. Reviu ditulis berdasarkan model yang sudah diajarkan, kemudian diberikan tantangan membaca. Bagi siswa yang lolos tantangan, akan mendapatkan reward dari Leaders Reading Challenge, yaitu kepala sekolah. Siswa yang berhasil mengikuti tantangan paling banyak akan mendapat piagam dan pin yang berhubungan dengan literasi.
4. Melaksanakan Readathon,
Sejak ada ekstrakurikuler literasi, saya membuat program membaca massal selama 40 menit. Kegiatan ini rutin dijalankan setiap minggu ke empat setiap bulannya. Kegiatan ini bekerja sama dengan OSIS. Seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan ini. Penyelenggara readathon adalah anak-anak literasi yang sudah saya latih dengan berbagai keterampilan. Acara readathon adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga sekolah. Saya sebagai pembina literasi mengatur acara agar berjalan lancar.
Sampai saat ini literasi terus berkembang di sekolah saya, pesertanya terus bertambah. Saya juga mengajak anak-anak mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan di lingkungan sekolah dan daerah tempat mengajar. Setiap tahunnya siswa saya selalu mendapat piagam dari Dinas pendidikan karena rutin menulis reviu dan membaca buku. Siswa juga mengikuti kompetisi yang berhubungan dengan literasi, festival literasi, dan gebyar literasi. Saya terus menambah pengalaman saya, diantaranya menjadi pengurus komunitas literasi, pengurus MGMP, ikut kepanitiaan seminar menulis, dan kepanitaan gebyar literasi.
Sejak ikut sagu sabu, saya telah mempunyai beberapa buku terbitan Media Guru. Saya bangga dengan apa yang saya peroleh saat ini, sebagai penggerak literasi saya berharap literasi terus berkembang di sekolah tempat saya mengabdi dan membuahkan warga sekolah yang literat.
Ingin tahu tentang kami silakan kunjungi, Instagram @Literasi_spentika dan facebook WJLRC 2018/2019-SMPN 3 Karawang Barat.
Salam Literasi
PROFIL PENULIS
Hj. Septa Arfina S.Pd lahir di Tanah Datar, 7 September 1967. Sehari-hari bekerja sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di SMPN 3 Karawang Barat. Bertempat tinggal di Telukjambe, Karawang.
Email: **(censored)**.
Nomor HP/WA: **(censored)**
Adapun buku yang sudah diterbitkan adalah Sekelumit Rinduku Untuk Duku (novel), Sejuta Kata Cinta (antologi), dan Jalan Terang Guru Pemenang (antologi). Penulis juga aktif menulis di blog gurusiana septaarfina.gurusiana.id. Juara 3 OGN Bahasa Indonesia Kabupaten Karawang tahun 2018. Aktif menjadi pengurus MGMP Bahasa Indonesia. Menjadi pengurus Komunitas literasi Kabupaten Karawang. Menjadi Kepala Perpustakaan SMPN 3 Karawang Barat. Pembina Ekstrakurikuler Literasi SMPN 3 Karawang Barat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan