Sedihku Apakah Sedihmu Jua
(Tantangan Hari Ke-80)
Oleh : Septa Arfina
Sudah hampir satu bulan negeriku dilanda wabah yang sangat berbahaya. Kehadiran wabah ini membuat semua berubah. Rencana yang sudah disusun pun terpaksa harus ditunda. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh pemerintah.
Terbayang di pelupuk mata, ibunda menungguku pulang karena sudah berjanji akan menemuinya di bulan Maret kemarin. Sejak bulan Januari aku sudah membeli tiket untuk pulang tanggal 21 Maret. Namun ternyata ada imbauan harus stay at home. Akhirnya tiket dibatalkan, tak jadi pulang, tak jadi bertemu bunda tersayangku yang sudah semakin menua. Ini kesedihanku yang pertama yang tak bisa dituliskan dengan kata-kata lagi.
Membaca informasi dari media sosial, ada peraturan bahwa perantau dilarang mudik oleh pemerintah. Takutnya para perantau membawa wabah pulang ke kampung halaman. Jadilah yang merantau harus tetap di rantau, harus menunda pulang sampai wabah ini berakhir. Inilah kesedihanku yang kedua, aku dan keluarga untuk sementara tak bisa berkumpul dengan keluarga besarku, ini artinya aku masih belum bisa bertemu bundaku. Tidak bisa mudik lebaran adalah kesedihanku yang mendalam. Tahun lalu, aku juga terpaksa tidak mudik lebaran karena sesuatu hal, dan tahun ini pun kedua kalinya aku terpaksa tidak mudik lebaran. Kesedihan ini membuat air mataku mengalir. Menemui bunda adalah kewajibanku di hari lebaran. Ternyata kali ini tak bisa diwujudkan. Berkumpul sama keluarga juga tak bisa . Tahun ini aku harus rela berjauhan dengan keluarga di hari lebaran.
Saat ini saling kunjung pun tak bisa. Adik dan kakak berada di kota yang berbeda. Namun kita tidak bisa saling mengunjungi. Saat ini di daerah tempat tinggalku hanya tinggal satu gerbang yang dibuka. Kehidupan terasa sepi dan menyedihkan. Tak ada lagi orang lalu lalang di depan rumah. Biasanya sambil berbenah ada saja yang lewat untuk sekedar bertegur sapa. Semua tinggal di rumah masing-masing dan serasa tak punya tetangga. Ditambah lagi kini sudah ada imbauan untuk beribadah di rumah. Mesjid pun sudah diimbau untuk tidak mengadakan shalat jumat. Ini adalah kesedihanku yang ketiga. Kesedihan karena terisolasi di tempat sendiri. Walau ini untuk kebaikan kita, tapi tetap tak bisa kita nikmati dengan hati yang lapang. Seketika datang juga perasaan nelangsa karena situasi saat ini.
Saat ini pun pembelajaran di sekolah harus tertunda. Tertunda pertemuan dengan anak-anak murid, tertunda pertemuan dengan teman kerja. Sementara terhenti gelak canda tawa dengan orang-orang yang biasa kita berbagi ilmu. Pertemuan diatur dari jarak jauh, dengan perantara gawai masing - masing. Perasaan rindu untuk bertemu pun disimpan dulu sampai keadaan pulih dari wabah ini. Inilah kesedihanku yang keempat, walau berat tapi harus dijalani.
Banyak hal yang kita rasakan dari kejadian ini. Kesedihan demi kesedihan yang dirasa, semoga berakhir manis. Semoga dapat kita ambil hikmahnya dari setiap kejadian. Tetap memasrahkan diri kepada Allah, karena hanya Allah lah sebaik-baiknya pelindung. Jangan tinggalkan sholat dan tetaplah sabar, karena hanya dengan shalat dan sabarlah sebagai penolong kita.
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan