Catatan Ramadhan 9
(Tantangan Hari Ke-109)
IBADAH PUASA MEMBENTUK AKHLAK MULIA
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Hari ini adalah hari ke-9 kita melaksanakan ibadah puasa di tengah pandemi COVID-19. Meskipun demikian kita dan keluarga tetap semangat menjalaninya. Puasa kali ini kita laksanakan dengan beberapa aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, seperti pelaksanaan shalat tarawih di rumah masing-masing, untuk menghindari penularan dari wabah virus corona yang bisa saja dibawa oleh orang lain yang tanpa gejala.
Seperti yang kita tahu puasa adalah menahan dari segala yang membatalkan puasa. Menahan dari haus dan lapar. Menahan hawa nafsu dari segala yang akan menjadikan ibadah puasa kita tidak bernilai sempurna.
Sama halnya dengan ibadah shalat yang mampu menjaga manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Orang yang khusuk shalatnya akan berusaha menghindar dari perbuatan yang akan menyeret dirinya untuk melakukan tindakan yang merugikan. Begitu juga ibadah puasa. Ibadah puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan dapat melatih diri kita untuk menahan dari segala yang membatalkannya. Maka orang yang melakukan puasa selama 30 hari akan terbentuk kepribadian yang mulia.
Rasulullah SAW bersabda,
“...Maka hendaklah Ia berpuasa, sesungguhnya puasa bisa menjadi benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Yang dimaksud dengan benteng adalah sebuah perisai yang menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang mendekati kepada hal yang buruk.
Dengan berpuasa kita sudah melatih diri kita untuk menghindari perbuatan yang mengedepankan hawa nafsu. Allah menginginkan kita melakukan kebaikan dan menjadi orang yang takwa. Dengan berpuasa kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Orang yang berpuasa adalah orang melatih diri mengelola hawa nafsunya. Menjaga tangannya agar tidak melakukan yang dilarang Allah. Melatih matanya, pendengarannya, lisannya dari semua yang dilarang Allah. Melatih kakinya melangkah menuju hal-hal yang dilarang Allah. Puasa juga melatih diri untuk menjaga hati dari hal yang dilarang Allah. Semua itu akan membentuk kepribadian yang baik atau menjadikan akhlak yang mulia bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa.
Suatu ketika ada yang melapor kepada Rasulullah SAW bahwa ada seorang perempuan yang selalu puasa di siang hari dan tahajud di malam hari, tapi ia sering menyakiti hati tetangganya. Rasulullah SAW mengatakan tempat perempuan itu di neraka. Sebab, puasa tak mempunyai arti baginya karena ia tidak menangkap pesan moral ibadah puasa yaitu mengendalikan diri.
Dengan demikian maka puasa bisa menjadi laithan bagi seorang muslim dalam menempa dirinya dengan membentuk karakter yang berakhlakul karimah atau berakhlak mulia. Apabila sudah melekat akan menjadikan watak bagi seseorang yang menjadi bagian dari dirinya baik dalam keadaan puasa maupun tidak. Bulan Ramadhan akan menempa diri seseorang dengan kesabaran berbuat baik, kesabaran untuk berempati pada orang lain, kesabaran untuk menghindar dari perbuatan tercela, kesabaran dalam melawan haus dan lapar. Selama 30 hari melatih sabar yang akhirnya menjadi suatu yang sudah terbiasa baginya.
Demikian yang bisa saya bagikan tentang puasa Ramadhan semoga bermanfaat.
Salam literasi
Karawang, 2 Mei 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan