Sahabat dalam Ingatanku
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-138)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Hujan baru saja berhenti mengguyur jalanan ibukota. Lalu lintas yang tadinya tersendat karena jalanan tergenang air sudah mulai lancar. Aku memberhentikan motorku dan menepi untuk melepaskan jas hujan.
“Alhamdulillah akhirnya hujan berhenti juga.” Gumamku dalam hati.
Setelah melepaskan dan merapikan kembali jas hujan, aku kembali menyalakan motor beatku dan melaju melanjutkan perjalanan pulang. Sore itu aku baru saja menjenguk Randi yang sedang dirawat di rumah sakit.
Randi adalah sahabatku kuliahku. Randi adalah anak yang pendiam, badannya kurus tinggi. Rambutnya ikal dan jika tersenyum membuat para wanita terpesona, karena senyumnya yang menawan.
Awalnya Randi seperti tidak menyukaiku. Ia selalu memandangku dengan sinis. Namun seiring waktu, sikap Randi berubah. Ia mulai memperhatikanku. Ia mulai baik denganku. Tak jarang ia membantuku dalam belajar atau sesekali mengajakku ke kantin. Hal ini membuatku senang.
Hari itu aku melihat Randi tidak seperti biasanya. Ia menyendiri dan wajahnya sedikit pucat. Aku menghamprinya.
“Randi, ada apa? Sepertinya ada masalah?.” Tanyaku.
“Tidak apa-apa Fin, aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir,” balasnya dengan tersenyum lebar yang seperti dipaksakan.
Hari berganti hari, hubunganku dan Randi menjadi semakin dekat. Aku selalu ada untuknya begitu juga dia. Kemana kami pergi selalu bersama.
Rona merah menghiasi senja di ujung langit, seolah menyapa membawa angan dan asa menyambut malam yang menyimpan sejuta rasa. Randi tiba-tiba mengajakku untuk bertemu malam itu. Aku tak mengerti mengapa Randi ingin bertemu denganku.
“Fin, nanti malam aku jemput ya? Kita ke kafe biasa tempat kita ngumpul.” Ucapnya.
“Ada apa Ran? Kok tiba-tiba?” tanyaku bingung.
“Gak ada apa-apa, ingin ngobrol-ngobrol saja.” Jawab Randi.
“Ok, kutunggu ya.” Aku pun menyetujui ajakannya karena aku rasa ada alasan lain sampai ia mengajakku pergi malam itu.
Malamnya Randi benar datang menjemputku. Ia sedikit pucat, tapi ia berusaha untuk tersenyum. Ia menyapaku dan langsung mengajakku pergi. Aku menurutinya. Sepanjang perjalanan, kami hanya terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana angin malam terasa dingin. Aku merapatkan tanganku ke dalam jaketku.
Sesampainya di kafe, kami langsung menempati tempat yang biasa kami tempati, di sudut ruangan. Biasanya kami megunjungi kafe ini seusai kuliah. Kami jarang keluar bersama di malam hari. Tapi kali ini, Randi minta malam hari. Pikiranku mengira-ngira ada apa dengan Randi. Aku memandangi Randi yang sedang membaca daftar menu, mencoba menelaah dari raut wajahnya. Semua penuh tanda tanya. Tapi aku tak mau mempermasalahkannya.
Akhirnya aku mendengar sesuatu yang tak terbayangkan olehku. Randi mengatakan padaku bahwa ia tidak akan kuliah lagi. Ia akan berhenti dan akan pergi jauh. Hatiku tak menentu. Aku tak mau Randi berhenti kuliah. Apalagi alasannya tidak ada. Berbagai dugaan muncul di kepalaku. Apa yang terjadi dengan Randi? Mungkinkah orangtuanya pindah? Atau orangtuanya tak punya uang lagi? Tak mungkin, ayahnya seorang pengusaha, tak mungkin ia kehabisan uang. Tapi malam itu Randi sudah pasti dan yakin mengatakan bahwa ia akan berhenti kuliah.
Malam itu, setelah mendengar keinginan Randi, aku tak bicara lagi. Pikiranku berkecamuk. Randi pun diam seribu bahasa. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di rumahku randi sempat berkata,
“Fin, jangan pernah lupakan aku ya. Aku menyayangimu.” ucapnya lirih sambil pamit dan berlalu.
Aku terdiam dan membisu saat itu. Sejak itu aku tak pernah bertemu Randi lagi. Walau sebetulnya aku ingin mencarinya. Tapi aku tak tahu untuk mencarinya kemana, ditambah lagi Randi tak ingin aku mencarinya. Aku selalu berdoa agar suatu saat aku dipertemukan dengannya. Dengan sahabat yang terbaik untukku.
Sore tadi tidak sengaja aku melihat Ibu Randi di rumah sakit tempat aku koas. Aku menghampirinya. Kulihat wajahnya sendu. Matanya bengkak seperti habis menangis. Aku menanyakan kabar Randi. Kemudian beliau menceritakan semua tentang Randi. Randi sekarang sedang sakit leukimia dan ia harus dirawat. Air mataku mengalir deras. Aku tak kuasa membendungnya. Randi sahabatku. Maafkan aku yang tak peka selama ini tentang keadaanmu. Selama ini Randi sering pucat dan suka menyendiri itu karena ia dalam keadaan sakit. Sekali lagi maafkan aku Randi, batinku.
Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk menjenguk Randi. Aku senang sudah bertemu Randi. Aku berjanji untuk datang setiap hari untuk menemuinya. Aku akan menghiburnya dan berdoa semoga ia bahagia dan panjang umur. Semoga Allah mendengar doaku untuk kesembuhan Randi. Aamiin YRA.
Karawang, 31 Mei 2020
Salam Literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan