Pentigraf (2) Jodoh Pilihan Ayah
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-148)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Mimi masih menangis di kamarnya. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Menurutnya ayah egois. Ayah tidak mempertimbangkan perasaannya. Mengingat perkataan ayah tadi, Mimi kembali menangis dan telungkup di kamarnya tempat ia menumpahkan segala rasa yang ada dalam hatinya. Tak ada lagi yang peduli dengan keinginannya. Ia kesal dan kecewa. Mengapa ayah tega, mengapa ayah tidak menanyakan dulu keinginannya. Mimi terus menangis sesenggukan.
Malam ini, Mimi sudah punya rencana. Ia akan kabur dari rumah. Saat orang-orang sedang tidur, ia melarikan diri lewat pintu dapur. Mimi tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau dijodohkan dengan pria pilihan ayah. Pria tersebut adalah anak teman ayah. Saat semua sudah tidur, Mimi berjalan mengendap-ngendap. Ia melihat kiri kanan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati agar tak ada yang bangun. Sampai di dapur, dibukanya pelan pintu dapur kemudian ia langsung keluar sambil menutup pintu. Ia tak tahu harus kemana, ia terus berjalan tak tentu arah. Walau rasa takut melanda ia tetap berjalan menyusuri jalan. Tiba-tiba sedang asyik dia berjalan, sebuah mobil sedan putih menyenggol tubuhnya. Ia pun kehilangan keseimbangan dan pingsan. Seorang pemuda keluar dari dalam mobil dengan perasaan takut. Lelaki itu mendekati Mimi yang terlelap tak berdaya. Sebagai rasa tanggung jawab, Mimi diangkatnya, kemudian dia masukkan ke dalam mobil untuk dibawa pulang ke rumahnya yang tak jauh dari sana. Pemuda itu akan membantu Mimi setelah sampai di rumah nanti.
Mimi tersadar, ia membuka matanya. Rasanya ia berada di tempat yang tidak dikenalnya. Ia berada di kamar, tapi kamar siapa? Ia mengingat kejadian yang menimpanya. Ya, tadi ia habis terserempet mobil, ia mencoba berdiri, tapi aduh, kepalanya masih pusing. Tiba-tiba seorang ibu dan seorang pemuda masuk. Sang ibu tersenyum, mereka berdua memperkenalkan diri sambil meminta maaf atas kejadian yang menimpa Mimi. Mimi melihat pemuda itu, sungguh bertanggung jawab pemuda ini, pikir Mimi dalam hati. Esoknya, keluarga pemuda itu bertanya mengapa malam kemarin ia berada di luar rumah. Setelah bercerita dan mendapatkan nasihat dari ibu dan ayah sang pemuda, akhirnya Mimi diantar oleh keluarga sang pemuda pulang ke rumah. Sampai di rumah Mimi, ayahnya keluar dan betapa terkejutnya Mimi ternyata ayah berpelukan dengan ayah pemuda itu sambil berkata “Mimi itu calon mantu mu yang kuceritakan itu Gus, ia anakku,” ucap ayah. Mendengar percakapan ayah, Mimi dan pemuda itu saling terpana.
Salam literasi.
Karawang , 10 Juni 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan