Pentigraf (3) Tak Disangka
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-151)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Pagi – pagi Tina bergegas pergi ke pasar. Seperti biasa, karena ini hari minggu ia melakukan kegiatan belanja rutin mingguan. Tina mengendarai sepeda motor merah kesayangannya yang sudah beberapa tahun ini menemaninya kemanapun ia pergi. Hari tampak cerah, burung-burung pun menari di langit yang biru. Tina menikmati perjalanannya pagi ini menuju pasar yang biasa ia kunjungi. Tak menunggu lama, sampailah Tina di pasar yang ia tuju. Ia memarkirkan motornya kemudian berjalan menuju kerumunan orang-orang yang berjualan dan berbelanja. Dia lihat suasana pasar sudah riuh rendah dengan suara pedagang. Tina memperhatikan sambil berpikir apa yang harus ia beli terlebih dahulu. Akhirnya ia putuskan untuk membeli sayur mayur ke tempat pedagang langganannya. Ia membeli serba lengkap sayur, cabai, tomat, tahu dan lain-lainnya. Yang penting sayur mayur ini cukup untuk bekal satu minggu.
Selesai membeli sayur mayur, Tina menuju pedagang ikan dan daging. Dilihatnya pembeli penuh sesak, ia masih berdiri dari pinggir untuk mencari celah masuk dan melihat ikan dan daging yang akan dia beli. Tina sebetulnya tak suka dengan suasana seperti ini. Tapi dia harus membeli bahan-bahan lauk pauk ini. Dikuatkannya hatinya tetap berdiri dipinggir menanti pembeli agak renggang. Saat menunggu itu, di sampingnya juga berdiri seorang ibu yang mungkin ingin berbelanja juga. Akhirnya bisa juga ia masuk dan memilih lauk pauk yang akan ia beli. Setelah memilih beberapa ikan, udang dan daging, kemudian saat akan membayar, tiba-tiba uang seratus ribunya jatuh. Saat ia akan mengambil, tiba-tiba Ibu yang tadi berdiri di sampingnya juga ikut mengambil, sambil berkata, “ini uang saya.” Tina tertegun dan bingung karena ia merasa jelas sekali uangnya yang jatuh. Tapi si ibu juga bersikeras mengatakan uangnya. Tina tak mau bertengkar, lagi pula tidak enak juga dilihat oleh orang-orang sekitar. Akhirnya Tina mengeluarkan lagi uang di dompetnya, dia membayar belanjaannya kemudian pergi meninggalkan tempat pedagang ikan tersebut, sambil menenteng tas belanjaannya yang lain yang ia simpan dekat si ibu tadi.
Tina mengendarai sepeda motornya sedikit kencang. Ada rasa kesal dalam hatinya mengingat peristiwa tadi. Ia merasa itu jelas uangnya yang jatuh, tapi mengapa ibu tadi yang mengaku itu miliknya. Ia tak habis pikir, ternyata jaman sekarang benar-benar sudah tidak ada nilai kejujuran. Sesampainya di rumah, Tina masih menggerutu. Kemudian ia memilah-milah hasil belanjaannya untuk disusun ke dalam Tupperware agar tahan lama lalu disimpan ke dalam kulkas. Lauk pauknya pun ia letakkan dulu di dekat tempat cucian piring. Ia merapikan kantong belanjaannya semua untuk disimpan dalam wadah plastik. Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang ada dalam kantong belanjaannya tadi. Diambilnya kertas itu dan dibukanya. “Maafkan saya Mbak, uang yang saya ambil itu memang uangmu. Tapi saya tak ada pilihan lain. Anak-anak saya menunggu di rumah dalam keadaan lapar. Saya pinjam dulu uangnya ya mbak, nanti suatu saat saya kembalikan. Wassalam Surti.” Tina terhenyak, air matanya menetes. Hatinya sedih, menyesal ia telah menaruh kesal kepada sang ibu. “Maafkan aku ya Allah.” bisiknya.
Salam literasi
Karawang,13 Juni 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan