Potret yang Tak Dirindukan
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-140)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Di sudut sana anak kecil berlari
Mengais rezeki untuk mencari sesuap nasi
Tak peduli hujan deras mengguyur tubuh nan ringkih
Berharap peroleh receh dari mereka yang lewat
Di sudut sana bapak tua menarik gerobak
Berisi penuh rongsokan yang terpilih
Sebelum gelap datang dan berlalunya senja
Bergegas mengayun langkah tanpa kenal lelah
Di sudut sana seorang pemuda menenteng map warna-warni
Sibuk menatap langit yang cerah seolah ada harapan
Tapi map warna-warni tak ada yang melirik
Hatinya galau entah kapan bisa mengejar mimpi
Di sudut sana seorang ibu hatinya teriris pilu
Kesedihan menumpuk bak gunung
Air mata mengalir deras laksana sungai
Menyaksikan buah hati yang tengah berjuang menaklukkan kerasnya hidup
Adakah yang mengerti kesedihan yang dirasa ini
Sedangkan luka terus menganga tak terperih
Susah payah bergulat redam sendiri
Sebab tak ada daya selain rintih
Sementara di sudut sana ada yang hanya simsalabim
Abrakadabra semua pinta langsung menjelma
Tak perlu menunggu keringat mengucur deras
Impian datang hanya seirama kerlingan mata
Di sini aku menyaksikan dengan beribu tanya
Seluruh potret yang tak mungkin dirindukan
Kalau perbedaan menyisakan luka bagi yang papa
Entahlah, semoga ada jawabnya
Salam literasi
Karawang, 2 Juni 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan