Kiprah Gurusianer Dalam Mengembangkan Literasi
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-208)
Pejuang Literasi - Lomba Agustus Media Guru
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Gerakan literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Hal ini harus dilakukan agar menjadikan insan pembelajar yang literat sepanjang hayat. Untuk itu, gerakan ini haruslah didukung penuh dengan tujuan yang sangat mulia dalam menumbuhkan budi pekerti peserta didik yang berada di dalamnya.
Mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekolah memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita diam dan tidak melakukan apa-apa. Budaya literasi di sekolah bisa dikembangkan dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa membuat guru dan siswa terlibat langsung di dalamnya.
Melalui ilmu yang saya peroleh dari berbagai pelatihan, saya merasa terpanggil untuk memajukan literasi di sekolah tempat saya mengajar. Apalagi saat ini saya telah bergabung dalam beberpa komunitas menulis yang sangat bermanfaat bagi saya untuk bisa mengembangkan literasi di sekolah.
Pertama, yang saya lakukan adalah bagaimana warga sekolah terutama peserta didik mencintai budaya membaca. Sebagai pembina literasi di sekolah, saya berusaha memberi motivasi anak didik dengan berbagai hal yang menarik. Siswa yang tergabung dalam kelas literasi diharuskan membaca buku dan menyelesaikan minimal 2 buku dalam satu bulannya. Untuk mewujudkannya, saya berkerja sama dengan pembina osis dan kepala sekolah. Setiap siswa yang sudah menyelesaikan tugas membaca buku sesuai dengan target, lanjut ke tugas berikutnya yaitu membuat jurnal dan membuat review. Setelah selesai, siswa akan mendapat medali dan sertifikat dari sekolah. Ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar terus melaksanakan budaya membaca. Cara ini membuat siswa menjadi bersemangat dalam membaca buku. Tak hanya membaca, siswa juga dilatih untuk menulis berbagai jenis tulisan yang setiap minggu dipajang di papan mading sekolah. Siswa merasa bangga ketika karya mereka terpasang di papan mading sekolah. Hal ini saya terapkan agar para siswa disamping gemar membaca juga gemar menulis.
Kedua adalah mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Sebagai kepala perpustakaan di sekolah, saya senantiasa memperhatikan apa yang dibutuhkan para siswa dalam memenuhi minat bacanya. Melengkapi koleksi buku yang banyak diminati siswa menjadi pilihan yang utama bagi saya dalam mengelolah perpustakaan. Saya juga bekerja sama dengan guru pengajar agar bisa memanfaatkan perpustakaan sebagai penunjang proses pembelajaran. Perpustakaan yang lengkap dan nyaman akan membuat anak-anak betah untuk membaca lebih lama di perpustakaan. Atas dasar itu, saya berusaha semaksimal mungkin menciptakan ruang baca yang disukai oleh peserta didik. Melihat perpustakaan selalu dipenuhi siswa setiap hari merupakan suatu kesenangan bagi saya.
Ketiga adalah sejak bergabung dengan Media Guru. Menulis di gurusiana. Langkah untuk memajukan literasi bagi saya semakin terang. Percaya diri semakin tinggi dan saya mulai dikenal banyak orang. Hal ini mempermudah saya dalam memajukan literasi. Biasanya saya mengajak peserta literasi mengikuti beberapa pelatihan literasi, festival literasi, dan kompetisi literasi. Saya ingin mengembangkan literasi dengan ilmu yang didapat dari berbagai pelatihan. Saya juga bergabung dengan komunitas literasi di daerah, yang dibentuk dengan tujuan menjadi wadah bagi para guru dan siswa untuk mengembangkan literasi. Saya mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan untuk menjadi salah satu pengurus karena aktif menulis di Blog Gurusiana.
Menjadi gurusianer adalah suatu hal yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya dapat memberi motivasi kepada teman sejawat bagaimana pentingnya literasi. Mengajak teman, murid, dan keluarga untuk gemar menulis dan juga gemar membaca. Bagi saya, literasi adalah teladan. Memberikan teladan kepada lingkungan kita tentang budaya membaca dan menulis. Menulis setiap hari dan menghasilkan beberapa buku atau karya adalah suatu bentuk yang nyata bagi saya untuk memberi teladan. Kita tidak cukup hanya mengajak, tapi juga memberikan bukti dan implementasi dalam keseharian yang akhirnya akan mendapat pengakuan dari orang-orang sekeliling kita.
Semoga tulisan ini dapat memberikan motivasi dan manfaat bagi pengembangan literasi di setiap sekolah. Salam literasi.
Karawang, 9 Agustus 2020
Data Diri Penulis
Hj. Septa Arfina S.Pd lahir di Tanah Datar, 7 September 1967. Sehari-hari bekerja sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di SMPN 3 Karawang Barat. Bertempat tinggal di Telukjambe, Karawang.
Email: **(censored)**.
Nomor HP/WA: **(censored)**Adapun buku yang sudah diterbitkan adalah Sekelumit Rinduku Untuk Duku (novel), Sejuta Kata Cinta (antologi), dan Jalan Terang Guru Pemenang (antologi). Penulis juga aktif menulis di blog gurusiana septaarfina.gurusiana.id. Juara 3 OGN Bahasa Indonesia Kabupaten Karawang tahun 2018. Aktif menjadi pengurus MGMP Bahasa Indonesia. Menjadi pengurus Komunitas literasi Kabupaten Karawang. Menjadi Kepala Perpustakaan SMPN 3 Karawang Barat. Pembina Ekstrakurikuler Literasi SMPN 3 Karawang Barat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan