Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ku Dekati, Tetapi Kau Malah Menjauh

(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-212)

Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd

Tuti sangat senang saat SK pindahnya telah turun. Saat ini adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Ia timang-timang SK itu sambil tersenyum. Ia sangat bahagia, karena sebentar lagi ia akan berkumpul dengan suaminya yang bertugas di kota lain. Suaminya juga pasti senang dengan kabar bahagia ini. Tuti sibuk memilah-milah barang yang akan ia bawa ke kota tempat suaminya bertugas. Ia kumpulkan semua yang ia perlukan di sana nantinya. Satu persatu barang yang ia perlukan dimasukkan dalam koper. Ia sudah mengisi 3 koper untuk dibawa pindah. Rasanya semua barang ia perlukan. Tuti sudah tak sabar menunggu hari esok untuk berangkat ke tempat suaminya. Besok Tuti berangkat diantar oleh ayah dan ibunya sedangkan suami Tuti menunggu di sana.

Hari keberangkatan tiba. Tuti bersama ayah dan ibu tersenyum bahagia. Mereka menuju bandara. Orang tua Tuti turut senang dengan kepindahan Tuti. Mereka tak tega melihat anak perempuannya terlalu lama berjauhan dengan suaminya. Tak baik, karena idealnya sepasang suami istri itu harus tinggal bersama. Satu jam lebih diatas pesawat, akhirnya pesawat mendarat di kota yang ia tuju. Suami Tuti sudah menunggu di sana. Setelah selesai menunggu semua barang yang di bagasi. Tuti di sambut oleh sang suami di area kedatangan. Tuti sangat senang bertemu suaminya. Mereka berdua tampak bahagia dan langsung naik mobil untuk menuju pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, mereka berdua beristirahat melepas lelah. Tuti tampak bahagia berada di samping suaminya. Masa-masa ini sudah lama dirindukannya. Tinggal bersama dan tak terpisah lagi. Tak berapa lama ia melihat suaminya gelisah. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bicaranya juga tak fokus. Ia tampak bingung. Akhirnya ia mengambil sebuah surat di dalam tas kerjanya. Pelan-pelan ia berikan pada Tuti. Tuti tercengang bercampur bingung, diambilnya surat tersebut dan dibukanya. Pikirannya juga tak menentu. Surat itu adalah SK mutasi dari kantor sang suami. Suami Tuti termasuk salah satu pegawai yang harus mutasi. Kebahagiaan Tuti pun kembali berubah menjadi kesedihan. Ia tak sanggup membayangkan harus kembali berpisah dengan suaminya. Selain kembali berpisah, Tuti juga merasa sedih karena jauh dari orang tuanya. Ia benar-benar sendirian di kota yang baru tempat ia pindah. Tuti hanya bisa terhenyak dan tak tahu harus berbuat apa.

**

Salam Literasi

Karawang, 13 Agustus 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post