Ku Menangis, Membayangkan
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-222)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Lantunan suara syahdu Rossa, mengawali sebuah cerita yang tayang di salah satu stasiun TV Indonesia. Lagu yang begitu sentimentil ini mampu menyayat dan menyentuh hati para pendengar setianya. Inilah sepenggal lagunya,
Jangan pernah katakan bahwa
Cintamu hanyalah untukku
Karena kini kau telah membaginya
Tak ada lagi yang bisa ku lakukan tanpamu
Ku hanya bisa mengatakan apa yang kurasa
Kumenangissss, membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya
Itulah sepenggal lagu yang menurut saya sangat menyentuh hati bagi siapa yang mendengarnya. Maknanya terlalu dalam untuk seorang perempuan. Bahkan kalau benar-benar dihayati bisa menangis dan sedih hati ini menikmati bait demi bait dari lagu ini. Lagu inilah yang membuat sinetron yang tayang di salah satu stasiun tv ini menjadi tambah menarik hati pemirsa terutama kaum ibu.
Sinetron dengan judul Suara Hati Istri ini mengangkat problematika kehidupan rumah tangga dari sisi yang sering tersakiti, yaitu wanita. Ceritanya banyak terinspirasi dari perasaaan dan curahan hati seorang istri yang tersakiti atau terdzalimi. Berbagai kisah kehidupan rumah tangga tersaji dengan apik. Dalam sinetron ini, seorang istri benar-benar berada di pihak yang lemah dan tak berdaya. Tayangan ini juga membuat para pemirsa menjadi gregetan dengan para wanita antagonis yang berperan sebagai selingkuhan sang suami. Selain itu, mertua yang judes, suami yang kejam dan tema lainnya juga membuat pemirsa kesal dan benci dengan tokoh tersebut. Namun, tayangan ini tetap ditunggu oleh sebagian pemirsa yang senang mengikuti kisah kehidupan rumah tangga ini.
Menurut saya, sebagian kisah yang diangkat dalam sinetron ini terlalu berlebihan. Jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, jarang ada orang yang sejahat dan setega itu. Realitanya mungkin tidak sampai separah itu, namun dalam tayangannya sangatlah hiperbola. Contoh, ada adik kandung yang merebut suami kakaknya, ada mertua yang berkuasa di rumah menantunya, ada teman menikahi suami teman dan banyak lagi kisah yang lainnya.
Dibalik kisahnya yang terkesan berlebihan, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari tayangan sinetron ini. Misalnya bagaimana menjadi istri yang baik, istri yang patuh pada suami, istri yang penyabar, bagaimana menjadi suami yang bertanggung jawab, yang melindungi keluarga, yang setia pada istri, dan lain sebagainya. Namun ada pula hal-hal yang tidak patut kita tiru dan jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Misalnya kisah perselingkuhan, perceraian, dan lain sebagainya. Hal lain yang perlu diingat oleh pemirsa adalah menonton tayangan ini janganlah sampai larut dan terhanyut, tapi hanya sekedar hiburan sebagai pelepas lelah atau mengisi waktu istirahat. Bijaklah dalam menyikapi isi cerita yang sedang kita tonton. Ingatlah bahwa semua itu adalah rekayasa bukan realita.
Kisah sedih yang mengharu biru tersaji dalam cerita ini, tinggal kita sebagai pemirsa harus bijak dalam menyikapinya. Jangan sampai tayangan ini membuat kita lupa, kemudian meniru karakter sang tokoh antagonis yang ada di dalamnya. Ambil sisi baiknya, lupakan sisi buruknya. Mari memberi warna dalam tontonan kita dengan hal yang baik.
Salam literasi
Minggu, 23 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan