Pengalaman Yang Tak Terlupakan
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-215)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Rasa takut ini sulit untuk dihilangkan. Dari 6 bersaudara, akulah anak yang paling penakut dalam segala hal. Tak jarang rasa takut ini membuat aku sering dicandain oleh saudaraku yang lain. Sampai aku kuliahpun ketakutan belum juga berubah. Aku takut tidur sendiri, takut ke kamar mandi sendiri, semua pekerjaan yang aku lakukan harus ditemani. Penakut ini sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil, walau keluarga melatih agar aku berubah , namun tetap saja aku sulit untuk mengalahkan rasa takutku. Aku juga sudah mencoba berusaha untuk tidak takut, tapi sampai selesai kuliah pun aku masih penakut. Penakut yang berlebihan ini sampai membuatku tidak tidur sedetikpun. Alhasil paginya aku merasaka pusing dan badan serasa tak bertenaga.
Hari itu aku libur kuliah. Saudaraku semua sudah tidak ada lagi yang menetap bersama orangtuaku. Kami semua sudah kuliah dan bekerja di kota. Hanya hari libur saja kami pulang menemui orang tua. Setiap pulang, aku dan saudaraku jarang yang sama jadwalnya. Seperti hari itu aku hanya pulang sendiri mengunjungi orangtua, karena kuliah libur. Orangtuaku hanya tinggal berdua. Aku senang bisa mengunjungi mereka. Kami bercerita tentang apa yang sudah dialami dan masa depan nanti. Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan orangtuaku.
Waktunya tidur, aku masuk kamarku dan sudah pasti sendiri, karena saudaraku yang lain tidak pulang. Baru merebahkan badan, hatiku mulai tak tenang. Aku bertanya dalam hati, apakah bisa tidur pulas malam ini. Pikiran mulai kemana-mana. Bunyi suara apa saja membuat aku berdebar. Tapi aku berusaha tenang. Aku malu karena sudah dewasa, tidak seharusnya ada rasa takut lagi. Sudah pukul 24.00 aku masih belum bisa tidur. Kebetulan kamarku di depan,jadi suara di luar terdengar jelas. Semua itu makin aku tak bisa tidur. Rasanya ingin pindah kekamar bundaku, tapi maluu. Hari makin larut, namun mataku belum juga mau terpejam. Suara-suara makin jelas saja semua. Bunyi angin, daun bergoyang, bayangan lampu semua makin membuatku takut. Tiba-tiba aku mendengar suara garukan, ada yang menggaruk-garuk karpet di luar kamarku. Aku gemetaran, takutku makin menjadi. Aku berteriak sekuatnya, “ Maaaaa, Paaaa” tak ada yang bangun. Aku melompat sambil mengedor dinding kamarku. Akhirnya orangtuaku terbangun dan menyalakan lampu. Kemudian membawaku keluar kamar. Ternyata kucing yang ingin keluar rumah, hingga ia menggaruk-garuk karpet. Aku jadi malu. Orangtuaku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Ternyata kamu belum berubah ya,” ucap papaku.
Salam literasi
Karawang, 16 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan