Penyesalan Dalam Keraguan
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-221)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Rizal masih menyesali apa yang telah terjadi hari ini. Ia tak bisa menjaga Salma, kekasihnya. Ia tercenung dan hampir putus asa, tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Ia sudah berkeliling pantai mencari Salma, tapi tak ditemukannya. Entah kemana hilangnya Salma yang baru saja ada bersamanya di pantai. Rizal dan warga sekitar sudah berupaya mencari, namun Salma tak kunjung ditemukan. Akhirnya Rizal pasrah dengan keadaan, ia menyerah. Kepala Desa menyarankan Rizal untuk pulang, karena hari sudah hampir malam. Kepala desa dengan senyum santai mengusap punggung Rizal bahwa ini bukan kejadian yang pertama kali. Beliau menyuruh Rizal untuk segera meninggalkan danau itu.
Rizal berjalan dengan perasaan tak menentu menuju rumah Salma, ia tak tahu harus berkata apa pada kedua orang tua Salma. Pikirannya kacau dan ada rasa takut dalam hatinya. Ia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan Salma. Mengapa ia mau diajak Salma untuk bermain di pantai itu. Sesampainya di rumah orang tuanya Salma, Rizal menceritakan semua kejadian yang terjadi. Ia tak tahu lagi harus mencari Salma kemana dan memohon maaf pada orang tua Salma atas kelalaiannya tak bisa menjaga Salma. Ayah dan Ibu Salma sangat shock mendengar cerita dari Rizal. Ibunya menjerit histeris. Ayahnya diam seribu bahasa. Rizal terpaku menyaksikan semuanya. Sungguh kejadian ini tak diinginkannya. Ia sendiri juga tak mau kehilangan Salma. Gadis yang sangat dia cintai. Ia sangat merasa bersalah. Ia meminta maaf berkali-kali kepada orang tua Salma walau ia tahu hal ini terasa berat bagi mereka.
Dua tahun sudah Salma menghilang tanpa jejak. Orang tuanya perlahan sudah mulai menerima takdir ini. Mungkin sudah takdirnya seperti ini. Tapi tidak dengan Rizal. Ia masih belum bisa melupakan Salma. Ia merasa bersalah dan merasa belum yakin dengan kehilangan Salma. Sore itu ia kembali menyusuri pantai itu, pantai tempat ia dan Salma pernah bermain bersama. Ia ingin Salma kembali. Tapi tak mungkin, sudah dua tahun berlalu. Salma pasti sudah tenang di alam sana. Semoga saja Allah mengampuni semua dosanya. Tiba-tiba mata Rizal melihat seorang perempuan yang mirip dengan Salma, Rizal terkejut tak percaya. Ia mengejar perempuan itu, yang berjalan mendekati seorang laki-laki yang tak asing lagi bagi Rizal, Bapak kepala desa. Perempuan itu hanya memandang Rizal, kemudian berlalu. Ia sepertinya tak mengenal Rizal, sedangkan kepala desa hanya mengangguk sambil membawa perempuan itu pergi. Tinggal Rizal yang tak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya. “Betulkah itu bukan Salma?” batinnya.
Salam Literasi
Karawang, 22 Agustus 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan