Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Suka Duka Pembelajaran Daring

(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-200)

Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah yang dilaksanakan secara daring menjadi kebiasaan baru yang diterapkan sejak adanya pandemi Covid-19. Kebijakan ini diambil sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kebijakan ini merupakan pengalaman baru bagi guru, wali murid, siswa dan juga sekolah. Banyak suka duka yang dialami dalam melaksanakan pembelajaran ini. Pembelajaran jarak jauh ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, namun semua ini harus kita hadapi demi memberi dan menerima ilmu pengetahuan anatara guru dan siswa.

Ada berbagai suka dan duka yang dirasakan saat pembelajaran jarak jauh dilaksanakan yang dirangkum dari berbagai sumber dan pengamatan penulis, diantaranya:

1. Siswa Menikmati

Dalam proses belajar di rumah, ada sebagian siswa yang menikmati. Ini terlepas dari persediaan kuota. Siswa merasa senang dengan pembelajaran jarak jauh ini karena waktunya sedikit. Pembelajaran dilaksanakan dengan santai. Misalnya yang kebagian sekolah jam 12 siang, berarti tidak perlu bangun pagi. Mereka bisa bangun siang seperti halnya saat libur sekolah. Menurut salah seorang anak didik saya, selama jaringan internet tidak ada gangguan, proses belajar akan berlangsung dengan baik.

2. Belajar Bisa dengan Santai

Belajar dari rumah bisa dilakukan dengan santai. Yang penting siswa bisa menangkap pelajaran yang diberikan guru, bisa mengerjan tugas dan mengerti dengan penjelasan guru. Walaupun pembelajaran jarak jauh tetap ada etikanya, tapi siswa bisa mengikutinya dengan santai.

3. Waktu Belajar Lebih Fleksibel

Banyak siswa yang merasa senang dengan pembelajaran jarak jauh ini karena waktunya lebih fleksibel. Mereka tidak harus mengikuti seperti belajar tatap muka, pergi pagi dan pulang sore. Kalau di sekolah, dalam satu hari siswa dapat mengikuti beberapa mata pelajaran, tapi kalau pembelajaran di rumah paling banyak belajar 2 mata pelajaran dengan durasi keduanya hanya 2 jam. Setelah pembelajaran selesai kita bisa mengerjakan tugas kapan saja. Yang penting selesai sesuai jadwalnya.

4. Melek IT

Pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan secara daring, membuat siswa dan guru harus melek IT. Guru bisa mencari berbagai model pembelajaran dengan menggunakan Internet. Begitu juga siswa. Siswa bisa mencari sumber belajar lainnya yang bisa di dapat di internet. Melalui pembelajaran daring, siswa bisa menemukan beragam sumber belajar. Hal ini lebih menyenangkan bagi siswa.

5. Tugas Bertumpuk

Menurut sebagian siswa, pembelajaran daring membuat tugas bertumpuk. Setiap guru pasti memberikan tugas dan harus dikerjakan. Hal ini membuat siswa menjadi malas mengikuti pembelajaran daring. Padahal sebetulnya tugas yang diberikan sama saja dengan ketika saat sekolah tatap muka. Saya sebagai guru memberi tugas setiap selesai satu materi pembahasan dan tugas diberi dalam waktu yang panjang pengumpulannya. Saat tatap muka juga begitu, tapi anak-anak terkadang suka menumpuk tugas. Tidak dikerjakan langsung setelah selesai satu pembelajaran. Akhirnya terasa menumpuk.

6. Orangtua ikut Terlibat

Pembelajaran daring memerlukan bantuan orang tua untuk mengawasi putra-putrinya dalam belajar. Selain itu, orangtua juga berperan dalam mengingatkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Pekerjaan ini menambah kesibukan orang tua. Ada orang tua yang tidak siap dengan situasi ini, sehingga tugas yang dihadapi orang tua serasa menjadi beban. Ada pula orang tua yang tidak paham dengan tugas yang diberikan guru. Siswanya juga tidak mau mencari sumber belajar yang lain sehingga pembelajaran jarak jauh menjadi memberatkan.

7. Sinyal dan Kuota Terbatas

Kunci utama dari pembelajaran jarak jauh adalah ketersediaan kuota dan sinyal. Keberhasilan pembelajaran ini sangat didukung oleh adanya kuota serta sinyal yang bagus. Ini terkadang menjadi kendala bagi sebagian siswa. Ada sebagian siswa yang keberatan dengan kuota, sehingga mereka tidak mengikuti pembelajaran. Namun sebetulnya pemerintah juga sudah memberikan kemudahan untuk siswa yang tidak punya kuota bisa mengajukan kepada pihak sekolah. Pihak sekolah akan membantu mencarikan jalan keluarnya. Terkait sinyal, sekolah sulit untuk membantu karena terkait jaringan yang terdekat dengan tempat tinggal siswa. Solusinya bisa mencari sinyal yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

Menyikapi perihal kekurangan dan kelebihan pembelajaran jarak jauh ini, sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara orang tua, guru dan pihak sekolah. Peranan mereka merupakan kunci keberhasilan pembelajaran daring ini agar berjalan dengan baik. Sangat diperlukan juga kita semua menciptakan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan untuk psikologis anak agar mereka tidak menjadi stres dalam belajar. Pembelajaran jarak jauh harus kita jalankan. Mau tidak mau semua pihak harus mendukungnya agar terlaksana dengan lancar dan optimal.

Salam literasi,

Karawang, 1 Agustus 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post