Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Surat yang Tertukar

(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-233)

Oleh : Hj. Septa Arfina S.Pd

Rindu bingung memenuhi semua kebutuhan yang ia perlukan untuk pernikahannya nanti. Semua serba mahal, sementara ia belum punya satupun. Ia berpikir dengan keras. Apa yang harus ia lakukan? Sementara untuk meminta pada ayahnya ia tak tega, karena ayah juga sudah bekerja keras untuk mencukupi keperluaan yang lain untuk pernikahannya nanti. Maka untuk kebutuhan pribadinya, Rindu tidak mau merepotkan ayahnya lagi.

Akhirnya Rindu memutuskan untuk menulis surat pada kakak tertuanya di luar kota. Walau ada rasa malu dalam dirinya, setiap saat selalu merepotkan kakak laki-lakinya itu. Semua kebutuhannya sudah dipenuhi oleh kakaknya dari masa kuliah dulu, kini ia tak mau merepotkan kakaknya lagi rasanya. Namun tak ada jalan lain. Ia memberanikan diri menulis surat yang isinya minta bantuan sejumlah uang untuk membeli sandal, baju dan make up. Dibacanya surat itu berulang-ulang, takut isinya menyinggung perasaan kakaknya. Rindu berharap semoga kakaknya ada rejeki lebih sehingga bisa memenuhi permintaannya.

Randu menunggu balasan surat dari kakaknya. Pernikahannya tinggal satu bulan lagi. Semoga cepat datang bantuan dari kakaknya. Tiba-tiba pak pos datang. Pak pos memberikan sebuah paket yang Rindu belum tahu dari siapa. Diterimanya sambil mengucapkan terima kasih. Bergegas ia masuk , dan langsung membawa paket itu kekamarnya. Dari luar tak ada alamat pengirimnya. Dibukanya perlahan, ternyata isinya perlengkapan yang ia butuhkan, baju, make up dan lainya. Sepertinya lumayan mahal. Di dalam paket itu juga ada terselip sebuah amplop. Dibuka dan diperhatikan isinya sebuah surat dan sejumlah uang. “wah banyak juga uangnya”, batin Rindu. Dibacanya surat itu, dan betapa terkejutnya Rindu, ternyata surat itu dari calon suaminya yang berada satu kota dengan kakaknya. Akhirnya Rindu mengerti, ia tak menduga bahwa surat yang dia kirimkan tertukar dengan surat untuk kakaknya. Hari itu ia mengirimkan dua surat. Satu untuk kakaknya, satu lagi untuk calon suaminya. “malunya aku”, batinnya.

**

Salam literasi

Karawang, 3 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post