Keberhasilan Kami adalah Kebahagiaan Ibu
(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-358)
Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd
Dibalik keberhasilan seorang anak, ada seorang ibu yang hebat. Kalimat ini memang benar adanya. Kesuksesan seorang anak bisa diraih karena dididik dan dibesarkan oleh seorang wanita hebat yang kita panggil “Ibu“.
Aku dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat luar biasa. Ibu yang kala itu menikah di usia sangat belia, 17 tahun, mampu menjadi sosok ibu yang tangguh dalam membesarkan anak-anaknya sampai ke jenjang keberhasilan. Sejak kecil ibu sudah ditinggal ibunya, sedangkan ayahnya menikah lagi. Ibu tumbuh besar seadanya, tanpa mengenyam pendidikan tinggi, dan hanya dibesarkan oleh nenek. Tapi ibuku adalah wanita yang suka belajar. Ibu belajar banyak hal dari apa yang beliau amati selama masa kecilnya sampai beliau menikah dengan ayah.
Setelah menikah dengan ayah, ibu berjanji bahwa kelak anak-anaknya haruslah menjadi anak-anak yang hebat. Ia tidak ingin kami merasakan penderitaan yang ia alami pada masa kecilnya. Untuk itu, dengan berbagai upaya, ibu mengurus dan mengajarkan kami bagaimana menjadi anak-anak yang berprestasi dan sukses. Aku dengan lima saudaraku tumbuh dan dibesarkan oleh ibu dengan penuh kasih sayang. Kami diajarkan untuk selalu saling mengasihi dan saling menghormati. Ibu bahagia memiliki kami, karena ibu sejak lahir tak punya saudara. Kami adalah harta ibu yang paling berharga.
Banyak kenangan masa kecil bersama ibu yang masih segar dalam ingatanku. Balutan kasih sayang ibu sepanjang waktu melekat erat dalam hatiku. Ibu yang serba bisa karena belajar dari lingkungannya, menjadikan kami tumbuh tak kurang dengan kasih sayang ibu dan ayahku. Momen-momen indah terukir jelas dalam ingatanku, misalnya saat lebaran tiba, Ibu sengaja menjahitkan baju baru untuk kami anak perempuannya yang tumbuh hampir sama besar. Malam telah larut, suara mesin jahit ibu masih terdengar. Ibu ingin kami memakai baju jahitannya saat sholat hari raya nanti. Ibu terus menyelesaikannya dengan fokus, tidak peduli dengan matanya yang telah terkantuk-kantuk. Setelah selesai barulah ibu tidur. Esok paginya ibu membangunkan kami untuk mandi dan segera berganti baju yang beliau jahit semalaman. Kami dengan semangat dan bahagia bergaya di depan kaca memakai baju jahitan ibu. Ibu tersenyum bahagia menyaksikan kami yang bergaya elok dalam balutan baju buatannya. Tampak raut bahagia di wajahnya.
Semua anak ibu harus bersekolah tinggi, ibu tak ingin anaknya tak sekolah. Ayahku hanyalah seorang guru, gaji guru kala itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluargaku apalagi untuk biaya sekolah kami. Untuk itu, ibu membantu ayah dengan membuka sebuah warung yang diberi nama “Umega“. Kata ibu, nama itu adalah singkatan dari Usaha Menambah Gaji. Warung Umega yang dikelola ibu sedikit banyak bisa membantu menambah biaya sekolahku dan lima saudaraku hingga menjadi sarjana. Berkat kegigihan ibu, kami berenam berhasil menempuh pendidikan tinggi. Kami semua bisa sekolah sesuai dengan cita-cita kami dan bisa mewujudkan impian ibu.
Saat pertama kali aku diangkat menjadi seorang guru, gaji pertamaku kuberikan pada ibu, ibu terharu dan menangis. Ibu menerima uangku, lalu memelukku dengan penuh haru. Tak lama ibu mengembalikan amplop itu padaku, “Ibu sudah menerimanya, sekarang ibu berikan untukmu ya, belilah keperluanmu di daerah tempatmu bertugas” ucap ibu saat itu. Aku tak dapat menahan haruku, ibuku benar-benar wanita yang luar biasa. Ia selalu tahu kebutuhan anaknya.
Kisah tentang ibu takkan pernah habis jika kujelaskan dengan kata-kata. Berbagai kisahnya hadir mewarnai kehidupanku. Wanita hebat yang telah mendidik dan membesarkanku, usianya kini telah memasuki 73 tahun. Namun nasihat dan pituahnya masih aku butuhkan. Tak ada yang bisa menggantikan posisi ibu bagiku. Aku selalu berdoa semoga ibu bahagia di hari tuanya bersama kami, keenam anaknya, juga menantu beserta cucu-cucunya. Terima kasih ibu, meski seluruh isi dunia kuberikan padamu, jasamu takkan bisa terbalas olehku.
Salam literasi
Karawang, 6 Januari 2021
DATA PENULIS
Hj. Septa Arfina S.Pd lahir di Tanah Datar, 7 September 1967. Sehari-hari bekerja sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di SMPN 3 Karawang Barat. Bertempat tinggal di Telukjambe, Karawang. Email: **(censored)**.
Nomor HP/WA: **(censored)**Adapun buku yang sudah diterbitkan adalah Sekelumit Rinduku Untuk Duku (novel), Sejuta Kata Cinta (antologi), Jalan Terang Guru Pemenang (antologi), Layar Impian (antologi), Di rumah Aja (antologi), Tasbih Senandung Rindu (antologi), E-learning Menyenangkan Tanpa Takut Corona (antologi), Menyemai renjana Memendar Senjana (antologi puisi). Penulis juga aktif menulis di blog gurusiana septaarfina.gurusiana.id. Juara 3 OGN Bahasa Indonesia Kabupaten Karawang tahun 2018. Aktif menjadi pengurus MGMP Bahasa Indonesia. Menjadi pengurus Komunitas literasi Kabupaten Karawang. Menjadi Kepala Perpustakaan SMPN 3 Karawang Barat. Pembina Ekstrakurikuler Literasi SMPN 3 Karawang Barat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan