Hj.Septa Arfina S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Wanita Pilihan Ibu

(Tantangan Gurusiana 365 Hari Ke-357)

Oleh : Hj. Septa Arfina, S.Pd

“Kamu harus nurut sama Ibu! Ibu hanya mau yang jadi mantu ibu itu Nindy, anak teman Ibu” ucap ibu tegas.

Kalau ibu sudah berkata seperti itu, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Ibu kalau dibantah kata-katanya, nanti jadinya akan runyam. Ibu pasti akan merajuk dalam waktu yang lama. Aku sudah sangat hapal sifat Ibu.

Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan wanita pilihan ibu. Aku tidak mengenal wanita tersebut, bahkan tahu wajahnya saja tidak, bagaimana mungkin aku bisa mencintainya? Menurut ibu cinta akan datang belakangan kalau sudah sering bersama. Aku tak bisa menerima apa yang disampaikan Ibu. Menurutku mencintai seseorang haruslah lahir dari hati, tak mungkin kita bisa bahagia kalau kita tidak mengenal pasangan kita. Apa yang harus aku lakukan agar ibu tak lagi memaksaku menerima wanita pilihannya. Aku menjadi bingung kalau mengingat semua ini.

Siang ini aku sengaja berjalan di taman dan menenangkan diri untuk melepas penat pikiranku. Aku berharap dengan menghirup udara segar di taman, aku bisa lebih tenang untuk mencerna permintaan ibu. Dalam kesendirian, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang gadis yang sedang mendorong wanita baya dengan kursi roda. Senyumnya manis sekali. Terlihat ketulusan dalam dirinya saat menjaga wanita paruh baya itu. Sepertinya wanita itu adalah ibunya. Gadis yang cantik dan anggun dengan baju santai dibalut hijab pink yang menambah kecantikan gadis itu. Aku membayangkan andai wanita pilihan ibu adalah gadis itu, mungkin aku masih bisa terima. Gadis yang cantik, penyayang dan selalu terlihat manis dengan senyum di bibirnya yang mungil. Ah sudahlah, mengapa harus membayangkan gadis itu. Aku segera melangkah meninggalkan taman menuju pulang.

Sampai di rumah ibu sudah menungguku. “Anton, ibu dari tadi menunggumu, ada yang ingin ibu perlihatkan padamu” ucap ibu dengan wajah berbinar-binar. “Nanti sore ibu akan mengajakmu ke rumah teman ibu. Ibu ingin mempertemukan kamu dengan anak gadisnya. Tapi supaya Kamu tidak terlalu kaget, pandanglah foto ini dulu” tambah ibu sambil menyodorkan sebuah foto padaku. Ku ambil foto itu dari tangan ibu, ku lihat juga meski dengan rasa malas. Saat kulihat, betapa kagetnya aku, ternyata wanita yang kulihat difoto itu adalah gadis yang kulihat di taman tadi. Aku tak tahu apakah aku harus senang, atau tidak. Yang pasti aku sudah bilang pada ibu bahwa nanti sore aku bersedia ikut ibu ke rumah temannya. Aku tersenyum dan segera menuju kamarku untuk bersiap-siap.

Salam literasi

Karawang, 5 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post