AKU RINDU MENGAJI DENGAN BAPAK
AKU RINDU MENGAJI DENGAN BAPAK
#Tantangan menulis harike-130
#lombafebruari2021.mediaguru.id
**********
Oleh: Siti Aisyah
Sosok ayah bagi semua orang adalah sosok yang istimewa dalam keluarga. Ayah adalah pejuang keluarga, pencari nafkah bagi keluarga yang selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Sosok ayah itu kupanggil Bapak. Bapak adalah seorang pegawai PNS Depdikbud. Hari demi hari dijalani dengan giat untuk menghidupi sembilan anak. Aku adalah anak kelima. Aku tak membayangkan bagaimana kedua orang tuaku bisa mencukupi kebutuhan kami semua dengan jerih payahnya. Bapak dan ibuku memiliki tugas dan peran masing-masing dalam membesarkan kami. Ibu menyiapkan makanan, pakaian, dan kebutuhan kami. Sedangkan bapak pencari nafkah utama bagi keluarga.
Bapak selalu berangkat pukul 06.00 pagi karena tak mau ketinggalan mobil jemputan yang sudah menunggu di jalan raya. Ini dilakukan demi menghemat ongkos. Bapak memang pegawai yang taat dan disiplin serta pekerja keras. Terkadang saat berangkat ke kantor beliau tak malu membawa hasil jahitan mukena ibuku untuk dijual di kantornya. Dengan usaha keras dan jerih payahnya terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Waktu terus berjalan, bapak semakin terpacu untuk mencari nafkah lebih gencar demi memenuhi kebutuhan keluarga. Apa pun dilakukannya asalkan halal. Di lahan yang tersisa di samping rumah, bapak dan kakakku beternak ayam negeri dan telurnya dijual ke warung. Pernah juga bapak beternak ikan lele untuk dikonsumsi sendiri. Bahkan pada saat menjelang hari raya Idul Adha, bapak pernah berjualan kambing qurban. Alhamdulillah, semua kambing qurbannya habis terjual karena bapakku tidak ingin mengambil untung banyak. Bapak juga seorang yang ulet dan rajin membuat sesuatu. Minggu dan hari libur pun tak disia-siakan waktunya untuk berkarya membuatkan aku meja kecil dari kayu untuk belajar. Semua yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk kami.
Bapak mendidik kami dengan pembiasaan untuk selalu shalat berjamaah dan tadarus Al-Quran. Tadarus Al-Quran dilakukan setelah berjamaah shalat Magrib. Terkadang air mataku menetes saat aku salah membaca atau salah dalam tajwidnya. Namun, itu semua dilakukan agar anak-anaknya bisa membaca Al-Quran dengan benar. Selesai shalat saatnya kami saling diskusi dan saling berkomunikasi. Pagi hari setelah shalat Subuh, bapak selalu membaca Al-Quran. Setelah itu mendengarkan ceramah di radio saluran khusus kebanggannya. Aku masih ingat saat itu beliau selalu mendengarkan ceramah KH. Kosim Nurseha dan kami semua juga ikut mendengarkannya. Baginya pendidikan adalah hal yang paling utama apalagi pendidikan agama sebagai bekal hidup di akhirat kelak. Bapak ingin anak-anaknya berhasil dalam pendidikan. Meskipun bapak hanya lulusan sekolah ST (setingkat SLTA) namun beliau ingin anak-anaknya bersekolah tinggi dan menjadi orang yang sukses.
Banyak waktu bapak yang tersita untuk pekerjaan hingga setiap hari penuh peluh terlewati. Namun, bapak tak menampakkan keluhan di wajahnya. Beliau tetap semangat menyongsong hari esok. Satu demi satu kakakku pun menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan sebagai PNS, karyawan BUMN, dan karyawan swasta.
Tak pernah ada manusia yang berharap sakit. Begitu juga dengan bapak. Tubuhnya yang dulu gagah kini lemah tak berdaya. tak sanggup menahan sakit. Semula kami mengira hanya sakit biasa karena memang bapak tak pernah sakit bahkan tak pernah mengeluh. Wajahnya mulai agak menguning dan sangat pucat. Kami segera membawanya ke rumah sakit. Beliau menderita sakit batu empedu. Bapak dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi pengangkatan batu empedu. Setelah menjalani operasi, beliau dinyatakan sembuh dan pulang ke rumah. Di rumah kami merawatnya dengan penuh perhatian agar segera pulih kembali. Namun, beberapa bulan penyakitnya mulai terasa dan kambuh lagi. Perut melilit yang sangat mendera. Bapak kembali dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi kedua. Setelah menjalani operasi kedua kesehatannya semakin menurun dan membuatnya semakin tak sadarkan diri. Berbaring dalam balutan selang-selang infus dan obat-obatan yang disuntikkan silih berganti.
Ya, Allah, Ya Robbi rasanya aku tak bisa membayangkan betapa penderitaan bapakku begitu berat. Air mataku terus menetes saat melihatnya mengeluh sakit berkepanjangan. Hatiku tak sanggup menerima semua ini. Jumat 22 November 1991 di usiaku yang ke dua puluh empat tahun, ketika itu aku masih kuliah semester 5. Bapak pergi meninggalkanku, meninggalkan kami yang mencintaimu. Innalillaahi wainna ilaihi rojiun. Bapakku telah pergi untuk selama-lamanya. Air mata kami membanjir melihat kepergianmu menghadap sang Khaliq pemilikmu. Kami sedih kehilanganmu namun kami ikhlas menerima takdir-Nya.
Bapak, aku rindu shalat berjamaah dan dibimbing mengaji seperti dulu lagi. Berkat didikan bapak aku bisa seperti sekarang ini. Terimakasih untuk semua doa, perhatian, dan pengorbananmu. Tak henti kupanjatkan doa untuk bapak dan ibuku. Semoga Allah. SWT mengampuni segala dosanya, menerima segala amal ibadahnya , dan berkumpul bersama para Nabi dan orang- orang salih surga-Nya. Aamiin
**********
RUMAHKU
10 FEBRUARI 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
