RINDU AYAH
RINDU AYAH
**********
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah hmm
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
….
….
Pernah mendengar kutipan lirik lagu ini?
Ya, ini merupakan lagu dari penyanyi balada legendaris Ebiet G. Ade. Banyak lirik lagunya yang menceritakan tentang alam, duka derita, cinta, religius, dan kehidupan. Lagu merupakan sebuah ekspresi yang mewakili perasaan seseorang. Dalam lagu ini Ebiet G. Ade menggambarkan perjuangan seorang ayah. Juga seorang anak yang sangat merindukan sosok seorang ayah. Lirik lagu ini juga menceritakan perjuangan seorang ayah yang dalam keterbatasan usia yang mulai menua dan fisik yang mulai renta. Namun masih tetap tabah.
Perjuangan seorang ayah tergambar dalam tiap bait dalam lirik lagu tersebut. Perjuangan seorang ayah yang sejak usia muda sampai usia tua tergambar jelas dalam fisiknya. Dulu semasa muda semangat mencari nafkah demi keluarga. Sampai menjelang usia tua pun semangatnya tak pernah pudar berjuang demi keluarga. Dalam lirik lagu ini digambarkan pula kerinduan seorang anak terhadap ayah dan ingin menikmati jerih payah seorang ayah dan ingin hidup bersama ayah, namun ayah sudah tiada.
Kalau aku mendengar lirik lagu ini tak terasa air mata ini menetes, Menangis, mengingat perjuangan seorang ayahku yang tak kenal lelah berjuang demi anak-anaknya. Ayahku hanyalah seorang pria sederhana tetapi ayahku adalah orang yang istimewa bagiku. Ayahku hanya seorang PNS yang bekerja di sebuah departemen. Bisa dibayangkan dengan jumlah saudaraku yang 8 orang, ayahku bekerja membanting tulang.
Alhamdulillah, Ya Allah aku bisa seperti ini karena perjuangan seorang ayah. Ayah dan ibuku merupakan merupakan malaikat di bumi yang paling berjasa dalam hidupku. Keringat ayah menjadi darah bagiku melalui nafkah yang diberikan untukku. Ayah tidak pernah mengadu kepada siapa pun bagaimana perjuangannya menghidupi keluarga. Namun, dari fisiknya tergambar jelas bagaimana perjuangan ayahku menghidupi kami anak-anaknya.
Ayah, aku rindu ayah.
Semoga perjuanganmu, jerih payahmu untukku, menjadikanku bisa tetap tegar sepertimu
Semoga Allah memberimu surga Firdaus sebagai tempat tinggalmu.
Robbigfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiro
Semoga Allah mengampuni ayah dan ibuku, dan mengasihani seperti mengasihaniku sejak kecil.
Aamiin
*********
Jakarta, 18 Juni 2022
#Tagur ke-20 (T591)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan