BUNDAKU SAYANG
BUNDAKU SAYANG
**********
Cahaya matahari seolah menyapa dari balik jendela, memaksaku untuk terbangun. Aku menangkap sorotan unik seakan menusuk mataku. Ternyata malam telah berganti pagi. Bulan telah berganti menjadi matahari. Segera kutunaikan salat Subuh. Setelah salat Subuh aku ingin sejenak berolahraga. Namun, tak kuat mata ini menahan kantuk dan segera menuju tempst tidur untuk membaringkan tubuh ini lagi. Tak berselang lama dari depan pintu kamarku terdengar pelan suara ketukan dan terdengar suara bunda yang lembut dan menenangkan.
"Shinta, bangun sayang." ucap Bunda membangunkanku dari balik pintu.
"Iya , Bunda sebentar." balasku masih sambil bermalas-malasan.
Aku pun berusaha bangun dari tempat tidurku yang seakan menarikku untuk tetap berada di sana. Beberapa saat kemudian pintu kamarku pun kubuka dan menampilkan Shinta di depan pintu dengan penampilan khas orang bangun tidurnya. Terlihat wajahku yang cantik seperti namanya. Gumamku dalam hati sambil memuji diriku sendiri.
"Selamat pagi anak Bunda yang cantik." sapa Bunda tersenyum ceria ke arahku sambil memberikan semangkuk bubur ayam kesukaanku.
‘Pagi juga, Bunda sayang." jawabku sambil tersenyum ceria.
"Sarapannya jangan lupa dimakan ya cantik! Setelah itu mandi, agar terlihat tambah cantik." ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutku.
"Iya, Bun." ucapku agak malas.
Kini aku kembali berada di dalam kamar. Semerbak aroma parfum vanilla menusuk hidungku. Langit yang cerah dan suara burung di pagi hari menjadi satu. Aku pun duduk di balkon kamar sambil menatap lurus ke depan. Ada banyak bangunan dan gedung tinggi di hadapanku. Inilah Jakarta, yang telah menampakkan keindahnya dengan hamparan langit biru di atasnya.
"Masya Allah, indahnya suasana pagi ini.” seruku sambil memuni kebesaran-Nya.
Lama juga aku menikmati keindahan yang ada di hadapanku. Matahari yang tadi menyapa kini telah berjalan ke atas dan menjadikan hari semakin terik.
Huuuff, akhirnya aku segera segera mandi. Kemudian aku keluar dari kamar dan mencari Bunda yang entah berada dimana. Ternyata bunda berada di teras rumah.
"Bunda." panggilku sambil menghampirinya.
Aku langsung memeluk bunda menyalurkan rasa lelah yang kurasakan.
"Kenapa sayang?" tanya Bunda penuh kelembutan.
"Gak apa-apa, Bun." jawabku.
"Bener gak apa-apa? Tapi itu mukanya kok ditekuk gitu?" tanya Bunda khawatir.
"Bibirnya kenapa manyun gitu? Kaya bebek, tahu gak? Ha ha ha. " ledek Bunda tertawa keras.
"Bunda, ih nyebelin !" rengekku sambil melipat tangan di depan dada.
“Shinta, jangan marah-marah ah ! Takut nanti lekas tua.” nyanyian Bunda seraya menghiburku. Pipiku merah merona karena Bunda yang terus menggoda.
"Tapi kan Shinta memang sudah tua. Ha ha ha.” ledek Bunda lagi karena pandangan matanya tidak sengaja menangkap rona merah di pipiku.
"Ih, Bunda." rengekku malu-malu.
Bunda hanya tersenyum melihat tingkahku. Aku pun memeluk Bunda dengan erat, Tanda sayangku pada Bunda.
**********
Jakarta, 14 September 2022
#Tagur 106 (T680)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan